Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Harry Truman membuat pengumuman mengejutkan kepada dunia pada 23 September 1949. Tepat hari ini 77 tahun lalu, Truman mengumumkan bahwa 'Rusia' atau Uni Soviet telah berhasil menguji bom nuklir dan membuat dunia berubah total dan memasuki era baru, yakni perlombaan senjata nuklir.
Dalam dokumen yang dirilis NSA berjudul "Detection of the First Soviet Nuclear Test, September 1949", sebelum pengumuman tersebut, Truman telah menerima laporan dari badan intelijen AS mengenai adanya "kontaminasi radioaktif abnormal" pada massa udara yang dikumpulkan di Pasifik Utara.
Awalnya, intelijen belum mengetahui secara pasti sumber kontaminasi tersebut. Mereka menduga radiasi itu bisa berasal dari kecelakaan nuklir maupun uji coba bom nuklir.
Namun, pemeriksaan lebih lanjut mengungkap jawabannya. Pesawat Layanan Cuaca Angkatan Udara AS di bawah organisasi rahasia AFOAT/1 berhasil mengumpulkan puing-puing radiologis dari atmosfer. Analisis terhadap material tersebut kemudian menunjukkan bahwa sumbernya adalah ledakan nuklir.
Laporan ini kemudian dicocokkan oleh intelijen bahwa benar Uni Soviet telah melakukan uji coba nuklir. Maka, Dua hari kemudian, pada 23 September, Truman mengumumkannya kepada publik.
Mengutip situs History, sejarah kemudian mencatat, uji coba itu sebenarnya telah berlangsung beberapa minggu sebelumnya, tepatnya pada 29 Agustus 1949 di lokasi pengujian Semipalatinsk, wilayah timur laut Kazakhstan.
Bom nuklir pertama Soviet tersebut dikenal sebagai RDS-1, sementara intelijen AS kemudian menyebutnya "Joe 1". Ledakan itu menjadi keberhasilan pertama program nuklir Uni Soviet.
Keberhasilan tersebut mengejutkan Washington. Sebelumnya, analis intelijen AS memperkirakan Soviet kemungkinan belum memiliki bom nuklir hingga sekitar pertengahan 1953, meski 1950 dianggap sebagai salah satu kemungkinan.
Selama beberapa tahun sebelumnya, AS menjadi satu-satunya negara yang memiliki senjata nuklir. Bom atom pertama AS diuji pada Juli 1945, sebelum digunakan terhadap Hiroshima dan Nagasaki pada Agustus tahun yang sama.
Kini, monopoli tersebut berakhir. Keberhasilan Soviet lantas membuat AS menghadapi ancaman baru dan memicu persaingan senjata nuklir antara dua negara adidaya tersebut.
Keduanya kemudian terus mengembangkan dan menumpuk persenjataan nuklir selama Perang Dingin. Jumlahnya melonjak dari beberapa bom menjadi puluhan ribu.
Menurut Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), persediaan nuklir AS mencapai puncaknya pada 1967 dengan 31.255 hulu ledak. Sementara itu, persediaan Uni Soviet diperkirakan mencapai sekitar 40.159 hulu ledak pada 1986.
Kini, hingga Januari 2026 terdapat sembilan negara bersenjata nuklir dengan total sekitar 12.187 hulu ledak nuklir. AS dan Rusia yang mewarisi senjata Soviet menguasai sekitar 83% dari hulu ledak yang berada dalam persediaan militer.



