Budidaya hidroponik yang dilakukan Tani Hijaponik menjadi salah satu alternatif pertanian di kawasan padat penduduk dengan keterbatasan lahan.

Pekerja memanen sayuran hidroponik di Cinangka, Sawangan, Depok, Jawa Barat, Rabu (30/9/2026). Budidaya hidroponik yang dilakukan Tani Hijaponik menjadi salah satu alternatif pertanian di kawasan padat penduduk dengan keterbatasan lahan. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Metode hidroponik memungkinkan masyarakat menanam sayuran dengan memanfaatkan ruang terbatas di sekitar rumah. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Berbeda dengan metode pertanian konvensional yang menggunakan tanah sebagai media tanam, hidroponik memanfaatkan air dan nutrisi untuk menunjang pertumbuhan tanaman. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Selain menghemat lahan, metode ini memungkinkan tanaman tumbuh relatif cepat dengan hasil yang segar.  (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jenis sayuran yang dibudidayakan antara lain selada, kangkung, pakcoy, serta bayam merah dan hijau. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Dalam proses pembudidayaan, pekerja mengatur tingkat keasaman atau pH air serta konsentrasi nutrisi menggunakan ukuran PPM (parts per million). Setiap jenis sayuran memiliki kebutuhan pH dan konsentrasi nutrisi yang berbeda agar dapat tumbuh optimal. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Tani Hijaponik menggunakan sistem Deep Flow Technique (DFT), yakni metode hidroponik yang mengalirkan air dan nutrisi melalui akar tanaman dengan bantuan pompa listrik. Untuk mengendalikan hama, pekerja memanfaatkan perangkap lalat buah dari botol bekas yang diisi cairan petrogenol. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Hasil panen hidroponik tersebut tidak hanya dikonsumsi sendiri, tetapi juga dipasarkan. Harga selada dan pakcoy sekitar Rp25.000 per kilogram, kangkung Rp15.000 per kilogram, serta bayam merah dan hijau sekitar Rp20.000 per kilogram. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Budidaya ini menjadi salah satu pilihan bagi masyarakat perkotaan untuk memanfaatkan lahan terbatas sekaligus menghasilkan pangan. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)