Jakarta selama puluhan tahun Indonesia merdeka, makin penuh bangunan tegak dan pemukiman padat. Namun di sela-selanya ada sejumlah pegiat yang kreatif memanfaatkan lahan untuk bertani.
Istilahnya Urban Farming, ketika di lahan sempit perkotaan semangat warga tak pernah lelah untuk menanam komoditas hortikultura.
Tak semuanya berlatar belakang sebagai petani ataupun akademisi ilmu pertanian. Namun, keinginan dan kreativitas membuat mereka bisa bertahan dengan aktivitas urban farming.
Bahkan, sebagian malah sudah menggantungkan hidupnya pada kegiatan tani kota tersebut. Setiap tunas yang tumbuh adalah doa yang ditanam di tanah kota, ketika kebun-kebun kecil itu hidup dan tak menyerah pada hiruk pikuk Jakarta.
Salah satunya adalah pasangan suami istri (pasutri) di Sunter Jaya, Jakarta Utara. Sutarno dan Yuliana-keduanya usia 63-memang kini bukan anak muda lagi. Namun, mereka sudah memiilih menekuni jalan tani kota alias urban farming sejak masih usia jauh lebih muda dari saat ini.
Kala itu, baik Sutarno dan Yuliana terbilang masih produktif dengan pekerjaan masing-masing sebagai guru. Sutarno lah yang lebih dulu berkecimpung dengan tanam-menanam di tengah lahan kota lalu mengambil pensiun dini pada 2015 demi fokus di dunia agrobisnis, disusul istrinya yang pensiun pada 2023 lalu.
Urban farming tak hanya sekadar menanam tanaman apa saja di tengah lahan kota yang terbatas. Oleh karena itu, selama bertahun-tahun bergerak di bidang lingkungan, Sutarno selalu membuka pintu rumahnya bagi tamu yang ingin belajar terkait urban farming ataupun yang tertarik membeli komposter buatannya.
Tamu yang datang pun disuguhi dengan berbagai kreasi pangan yang bahannya dari kebun sendiri.
Saat CNNIndonesia.com berkunjung, pasutri itu menyajikan bakwan daun kelor dan puding daun pegagan. Daun kelor dan daun pegagan yang jadi bahan utama panganan itu tidak dibeli dari sembarang tempat, melainkan dipanen dari urban farming yang dilakukan di lantai atas rumah mereka.
Sutarno bercerita dirinya sudah secara tak langsung dia sudah menekuni urban farming sejak sekitar 2008 silam. Namun, awalnya bukan tanam-menanam yang menjadi 'mainannya' melainkan pengelolaan sampah untuk dijadikan kompos atau media tanam.
"Awalnya memang bagaimana kita memanfaatkan media tanam saja. Tapi tanamnya di mana? Nah itu akan mengalir, muncul. Oh di genteng bisa, oh di tembok bisa. Nah teknologinya itu juga muncul. Sehingga yang kita lakukan ternyata membuat keluarga itu kalau mau makan cukup dari kebun saja," kata Sutarno saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Senin (7/9).
Dan lewat kiprah di kompos, dia bersama istri kini menaungi UMKM bernama Utama Composter.
Seiring berjalannya waktu, urban farming di rumahnya pun semakin berkembang di bagian atap (rooftop).
Dari tanaman pangan seperti singkong dan sayuran bayam-kangkung, hingga tanaman buah dalam pot atau Tabulampot pun ada seperti apel dan kedondong. Selain itu, ia juga merawat yang bermanfaat untuk obat-obatan alias togamas.
Sutarno mengaku hasil panen dari urban farming ini disalurkan ke berbagai tempat. Ada yang dipasarkan-baik hasil tumbuhan maupun olahannya-baik secara daring maupun luring, ada yang dikonsumsi sendiri, dan ada juga yang dibagikan.
Bukan di daerah perbatasan atau pinggiran kota Jakarta, Suryana (56) yang juga Ketua RT setempat memanfaatkan bagian tersisa rumahnya yang berada dalam gang di Setiabudi, Jakarta Selatan sebagai tempat beternak dan bertani alias urban farming.
Menciptakan sistem pertanian yang terintegrasi di lahan terbatas di tengah kota bukanlah hal yang mustahil baginya meski rumahnya di sebuah gang kecil di Kelurahan Pasar Manggis, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan.
Dia berkebun di atap rumah yang didak itu sejak Oktober 2024 lalu. Pembangunan dak tersebut menjadi awal dari perjalanannya menjalankan aktivitas urban farming di rooftop rumah.
"Kalau sayuran tuh, yang rutin, kangkung, cabai, tomat, terong. Nah itu sama ya sesekali, bawang merah, daun bawang. Itu cuma buat kebutuhan pribadi aja. Ya kalau berlebih kita berbagi dengan kita undang panen bareng, kadang-kadang dari PKK, kelurahan juga ikut," ujar pria yang karib disapa Pak Nana itu saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, awal September ini.
Kegiatan urban farming dan beternak itu dia pelajari secara mandiri tanpa memiliki latar belakang sebagai seorang petani ataupun peternak, maupun akademisi terkait.
Selain sayuran-sayuran tersebut, beragam tanaman lainnya juga dibudidayakan Suryana. Papan nama kecil bertuliskan lengkeng dan jenis buah buahan lainnya pun terlihat ditancapkan pada pot-pot yang dibariskan di rooftop rumahnya.
Dia mengaku pupuk yang digunakan merupakan hasil olahannya sendiri dari kotoran hewan (kohe) domba ternaknya di rumah tersebut.
"Limbah dari kohe itu, nah tadi nih, keterikatan sama pertanian terintegrasi. Limbah ini itu kan bisa kita manfaatkan buat pupuk. Itu, baik kohe-nya maupun urine-nya, gitu. Jadi alasannya itu kenapa kita melihara domba," ungkapnya
Terdapat total lima domba yang ia ternak di rumahnya. Rutinitasnya beternak pun saling beriringan dengan rutinitasnya untuk mengelola urban farming.
Sejauh ini, kata Suryana, keberadaan kandang domba di lahan rumahnya itu tak menuai keberatan dari tetangga maupun warga lain.
Bagi Suryana dan keluarga, manfaat dari kegiatan urban farming akhirnya tak hanya dirasakan dari berkurangnya anggaran belanja dapur. Ia pun merasakan dampak urban farming bagi kesehatan hingga kehidupan spiritualnya.
Menurut Suryana, "Dari sisi spiritualnya kan tadi ada, memang bonus lah, dihitung sedekah karena punya nilai manfaat buat lingkungan, buat manusia, maupun buat makhluk yang lain. Ini kadang-kadang burung pada ke sini, serangga, lebah kalau lagi jagung berbuah, lebah banyak di sini. Nah, itu artinya ada siklus kehidupan yang kita buat."
Sementara itu, Sutarno dalam perbincangan sambil menyusuri setiap tanaman yang ia rawat mengatakan, terlepas dari teknologi yang digunakan ataupun model urban farming yang dilakukan, dia berharap gerakan itu bisa terus meluas dan konsisten. Terkhususnya, harapan ini ia tujukan untuk masyarakat DKI Jakarta.
Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta Hasudungan Sidabalok mengatakan dari pendataan pihaknya saat ini setidakya diperkirakan ada 1.399 titik dan lebih dari dua ribu pegiat urban farming di seluruh kawasan ibu kota itu.
"Jumlah lokasi urban farming di DKI Jakarta 1.399 titik dengan total luasan urban farming komoditas hortikultura pada tahun 2025 sejumlah 138,38 hektare," kata dia saat diwawancara CNNindonesia.com pada pertengahan September ini.
"Penggiat urban farming di DKI Jakarta berjumlah 2.814 orang (data statistik pertanian DKPKP DKI Jakarta per Agustus 2026)," sambungnya.
Selain itu, dia bilang kegiatan urban farming di Jakarta pun sejatinya telah tertulis di Instruksi Gubernur Nomor 14 tahun 2018 tentang Pelaksanaan Pertanian Perkotaan.
Lewat Ingub itu, katanya, urban farming sudah menjadi bagian gaya hidup dalam upaya menghijaukan lingkungan dan mendukung ketahanan pangan.
Di perbatasan Jakarta-Depok, tepatnya di Jagakarsa, terdapat sebuah forum warga-umumnya kelompok muda-petani kota di kecamatan itu yang menamai diri mereka sebagai Majelis Sayur. Secara formal, beberapa pegiat mengatakan Majelis Sayur mulai dirintis sekitar 2021 silam, berawal dari sebuah acara terkait pangan dan tanaman hortikultura yang mengumpulkan mereka.
Julian Riezki (40) salah satu penggiat di Majelis Sayur menceritakan Jagakarsa pada dasarnya bukan lagi kegiatan urban farming, tetapi sudah lebih menjurus pada kebudayaan budi daya pertanian di kota (urban agriculture).
"Jagakarsa ini menurut saya sudah bukan lagi sekedar urban farming, tapi urban agriculture. Bukan lagi cuma 'menanam di kota', tapi ada sebuah ikatan antara warga dan sumber kehidupan. Jadi tempat sebuah produksi kehidupan dengan budayanya sendiri," kata dia saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Jumat (11/9) petang.
Salah satu dari lima pendiri dari Selasarasa Foodlab itu mengatakan dia tak berangkat dari kertas kosong untuk mendefinisikan hal tersebut. Pasalnya, kata pria yang karib disapa Juli, dalam sejarahnya kawasan Jagakarsa itu adalah ladang perkebunan atau pertanian dan peternakan.
Menurutnya hal itu bisa dilihat dari toponimi daerah-daerah di sana yang dinamai dari nama-nama komoditas holtikultura seperti Jalan Durian, Pepaya, Kecapi, Matoa, hingga Kelurahan Srengseng Sawah.
Selain itu, sambungnya, masyarakat Jagakarsa juga pernah punya upacara syukuran atas hasil panen seperti Serentaun yakni Sumbang Bumi.
Oleh karena itu, katanya, Majelis Sayur hadir sebagai bagian dari kesadaran bersama sesama warga Jagakarsa-yang kebetulan bertani hingga berkebun-untuk saling menjalin komunikasi, menguatkan, dan berkembang bersama.
"Majelis Sayur ini konsepnya bertetangga. Kita kalau ketemuan, walau masih belum terjadwal sering di tempat yang berbeda. Keliling kebunlah," kata dia.
"Nah, kenapa bermajelis? Karena sepakatnya ya semua setara. Enggak ada ketuanya, ketuanya ya sama-sama nih. Semua orang ini ya ketuanya dan semua orang ini ya anggotanya," sambung Juli yang menegaskan majelis itu tak terkait dengan kepentingan apapun, apalagi politik.
Apa yang disampaikan Juli itu diamini Abdul Latif (36) secara terpisah. Latif, pemuda Jagakarsa yang berkebun di lahan bantaran kali yang dinamainya Pondok Aselih menegaskan tak ada yang namanya 'ketua-ketua' di dalam Majelis Sayur.
Tapi, kalau belakangan ada pihak luar yang ingin tahu tentang Majelis Sayur, mereka memang ada yang bisa diajak ngobrol terlebih dulu sebelum ke lainnya.
Selain Juli dan Latief, beberapa yang jadi bagian Majelis Sayur itu di antaranya ada Ibnuh yang bergiat hidroponik di kebun Youngsayur, Ahmad Fahrizal yang melakukan pembibitan alpukat serta budidaya sayur bersama Peralpukatan Duniawi.
Lalu ada Sophia Louretta yang spesifik membuat kompos dan media tanam lewat Tanialit, dan seorang ibu rumah tangga Lily Almasih yang berkebun di atap rumahnya (Kebun Emeng).
Latif mengatakan seiring waktu, kini Majelis Sayur sedang berkolaborasi untuk membuat Sekolah Tani Kota. Untuk kurikulumnya, kata dia, bekerja sama dengan sejumlah pihak termasuk beberapa orang yang tergabung dalam arena kreatif di Jagakarsa, Gudskul.
Untuk kegiatan selain berkolaborasi di bidang ilmu, Latif mengaku berharap Majelis Sayur juga bisa membangun 'Pasar Bersama', setidaknya di Jagakarsa.
"Di Jakarta ini kan pasarnya besar ya, [panen dari Bogor] kan suplainya ke sini. Nah, gimana kita bisa bangun juga agar bisa mendapatkan pasar itu yang terdekat, ya di kecamatan ini," kata Latif.
"Nah kita bagian dari solusi itu," sambungnya.
Walaupun demikian diakui Latif, Rizal, hingga Lily saat berbincang secara terpisah masing-masing sebetulnya sudah memiliki pasar dan metode penjualan sendiri. Tapi, kata mereka kompak secara terpisah, Majelis Sayur itu jadi wadah komunikasi dan kolaborasi yang memberi energi baru dalam kegiatan masing-masing.
Tak hanya dimonopoli warga biasa, pemerintah kota dan jajarannya turut turun tangan membina dan mengurus urban farming, termasuk di lingkungan perkantoran masing-masing. Salah satunya di Kantor Kelurahan Guntur, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan.
Dari kejauhan, Kantor Kelurahan Guntur, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan tampak seperti kantor pemerintahan daerah seperti biasanya.
Seluruh pegawai hingga petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) terlihat berkumpul di lantai dasar untuk mengikuti apel pada Senin (7/9), sekitar pukul 08.00 pagi.
Pasca-apel, sejumlah petugas PPSU langsung beranjak naik ke lantai 5 kantor. Bukan untuk istirahat, melainkan untuk mengelola urban farming yang ada di rooftop kantor.
Sebelumnya, rooftop ini hanyalah tempat terbengkalai yang digunakan untuk menaruh sejumlah barang tidak digunakan. Namun, sejak 2 tahun lalu, tempat ini disulap menjadi tempat untuk budi daya tanaman.
"Karena di wilayah Kelurahan Guntur kebetulan sudah padat, karena bertepatan di tengah kota, untuk lahan makin susah. Jadi jalan satu-satunya harus memanfaatkan lahan yang ada, seperti rooftop dan pekarangan rumah," ujar Lurah Guntur, Teguh Tri Atmanto, saat berbincang CNNIndonesia.com pertengahan September ini.
Bukan untuk sembarang alasan, jelas Teguh, urban farming ini ditujukan untuk mendukung ketahanan pangan warga serta menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih hijau.
"Selain sebagai ketahanan pangan dan penghijauan, juga sebagai edukasi kepada masyarakat. Kan kita harus memberi contoh dulu," lanjutnya.
Pengelolaan urban farming ini tak hanya melibatkan satu pihak tertentu. Kelurahan, petugas PPSU, hingga anggota Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) turut andil dalam kegiatan ini. Tidak disalurkan secara acak, hasil panen ini utamanya dibagikan secara khusus kepada warga yang membutuhkan.
"Pengelolaannya kalau sudah panen diserahkan ke PKK. Kan PKK yang tahu mana yang membutuhkan karena dia berhubungan langsung sama masyarakat," lanjutnya.
Hasil panen dari urban farming ini tidak ucuk-ucuk ada. Para pengelola, yang awalnya tidak yakin bisa menanam karena tidak ada lahan kosong, telah melalui berbagai proses belajar sejumlah pihak-termasuk PPSU yang ditugaskan--seiring berjalannya waktu.
"Belajar, kita semua dari belajar, sih. Ya coba, terus kita kan di sini kan kita juga dimonitori dari KPKP, dari Dinas KPKP untuk penanaman, untuk ketahanan pangan. Banyak informasi. Jadi dari KPKP kita kalau seandainya ada kendala apa, kita bisa main ke KPKP, kita butuh apa. Ya, terus kita semua dari nol sebenarnya," ujar Harno, salah satu petugas PPSU yang bertugas mengelola urban farming.
Ketika dikunjungi tim CNNIndonesia.com, petugas sedang menanam kembali pakcoy di sistem hidroponik ini. Tak hanya menanam, mengairi, dan menuai, para petugas juga pada akhirnya belajar terkait menjaga tanaman dari hama.
"Galon-galon yang udah enggak kepakai, mungkin kan orang nggak ngerti, buat sebagai pot. Kita isi tanamannya, ya alhamdulillah kan ada cabai, jagung, ya macam-macam, kan nyatanya hidup. Kalau seandainya kita semua mau nanam gini, kebutuhan ibaratnya ngurangin biaya," ujar salah satu PPSU yang mengelola urban farming di kantor kelurahan itu, Harno.
Terpisah, Selain di Kantor Kelurahan Guntur itu, Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta Hasudungan Sidabalok mengatakan, "Banyak Instansi di Pemprov DKI Jakarta secara mandiri sudah melakukan urban farming baik secara konvensional maupun dengan teknologi vertikal garden, hidroponik, rooftop hingga green house."
Pelaksanan itu tak lepas dari Ingub 14/2018, Desain Besar Pertanian Perkotaan DKI Jakarta (2018-2030), Instruksi Sekretaris Daerah Ibukota Jakarta Nomor 40 tentang tentang Pelaksanaan Pertanian Perkotaan Melalui Pelaksanaan Gerakan Menaman Tanaman Pangan Pendamping Beras untuk Ketahanan Pangan Keluarga di DKI Jakarta.
"DKI Jakarta memang bukan sentra produksi pangan namun kebutuhannya sangat tinggi akan pasokan pangan, sehingga sebagai upaya ketahanan pangan pada lingkup keluarga melalui diversifikasi sumber pangan pada komoditas tanaman pangan pendamping beras," kata dia.
"Melalui kegiatan urban Farming dapat menjadi solusi di tengah luasan lahan di perkotaan yang semakin terbatas," sambungnya.
Untuk membantu warga, pihaknya secara rutin melakukan pembinaan, pendampingan dan memfasilitasi kelompok dan penggiat urban farming melalui pelatihan, monoitoring pemberian bantuan sarana produksi (saprodi). Bahkan, sambungnya, ada juga pengiriman tim mobile secara berkala untuk membantu kemungkinan risiko penyakit tanaman.
"Melalui UPT Pusat Pengembangan Benih dan Proteksi Tanaman, DKPKP DKI Jakarta secara rutin menerjunkan mobil klinik tanaman dan tim brigade proteksi tanaman sebagai sarana konsultasi, pengecekan tanaman skala lab mobil, rekomendasi hingga penanganan serangan organisme penggangu tumbuhan (OPT) kepada masyarakat secara gratis," tuturnya.
Jakarta selama puluhan tahun Indonesia merdeka, makin penuh bangunan tegak dan pemukiman padat. Namun di sela-selanya ada sejumlah pegiat yang kreatif memanfaatkan lahan untuk bertani.
Istilahnya Urban Farming, ketika di lahan sempit perkotaan semangat warga tak pernah lelah untuk menanam komoditas hortikultura.
Tak semuanya berlatar belakang sebagai petani ataupun akademisi ilmu pertanian. Namun, keinginan dan kreativitas membuat mereka bisa bertahan dengan aktivitas urban farming.
Bahkan, sebagian malah sudah menggantungkan hidupnya pada kegiatan tani kota tersebut. Setiap tunas yang tumbuh adalah doa yang ditanam di tanah kota, ketika kebun-kebun kecil itu hidup dan tak menyerah pada hiruk pikuk Jakarta.
Salah satunya adalah pasangan suami istri (pasutri) di Sunter Jaya, Jakarta Utara. Sutarno dan Yuliana-keduanya usia 63-memang kini bukan anak muda lagi. Namun, mereka sudah memiilih menekuni jalan tani kota alias urban farming sejak masih usia jauh lebih muda dari saat ini.
Kala itu, baik Sutarno dan Yuliana terbilang masih produktif dengan pekerjaan masing-masing sebagai guru. Sutarno lah yang lebih dulu berkecimpung dengan tanam-menanam di tengah lahan kota lalu mengambil pensiun dini pada 2015 demi fokus di dunia agrobisnis, disusul istrinya yang pensiun pada 2023 lalu.
Urban farming tak hanya sekadar menanam tanaman apa saja di tengah lahan kota yang terbatas. Oleh karena itu, selama bertahun-tahun bergerak di bidang lingkungan, Sutarno selalu membuka pintu rumahnya bagi tamu yang ingin belajar terkait urban farming ataupun yang tertarik membeli komposter buatannya.
Tamu yang datang pun disuguhi dengan berbagai kreasi pangan yang bahannya dari kebun sendiri.
Saat CNNIndonesia.com berkunjung, pasutri itu menyajikan bakwan daun kelor dan puding daun pegagan. Daun kelor dan daun pegagan yang jadi bahan utama panganan itu tidak dibeli dari sembarang tempat, melainkan dipanen dari urban farming yang dilakukan di lantai atas rumah mereka.
Sutarno bercerita dirinya sudah secara tak langsung dia sudah menekuni urban farming sejak sekitar 2008 silam. Namun, awalnya bukan tanam-menanam yang menjadi 'mainannya' melainkan pengelolaan sampah untuk dijadikan kompos atau media tanam.
"Awalnya memang bagaimana kita memanfaatkan media tanam saja. Tapi tanamnya di mana? Nah itu akan mengalir, muncul. Oh di genteng bisa, oh di tembok bisa. Nah teknologinya itu juga muncul. Sehingga yang kita lakukan ternyata membuat keluarga itu kalau mau makan cukup dari kebun saja," kata Sutarno saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Senin (7/9).
Dan lewat kiprah di kompos, dia bersama istri kini menaungi UMKM bernama Utama Composter.
Seiring berjalannya waktu, urban farming di rumahnya pun semakin berkembang di bagian atap (rooftop).
Dari tanaman pangan seperti singkong dan sayuran bayam-kangkung, hingga tanaman buah dalam pot atau Tabulampot pun ada seperti apel dan kedondong. Selain itu, ia juga merawat yang bermanfaat untuk obat-obatan alias togamas.
Sutarno mengaku hasil panen dari urban farming ini disalurkan ke berbagai tempat. Ada yang dipasarkan-baik hasil tumbuhan maupun olahannya-baik secara daring maupun luring, ada yang dikonsumsi sendiri, dan ada juga yang dibagikan.
Bukan di daerah perbatasan atau pinggiran kota Jakarta, Suryana (56) yang juga Ketua RT setempat memanfaatkan bagian tersisa rumahnya yang berada dalam gang di Setiabudi, Jakarta Selatan sebagai tempat beternak dan bertani alias urban farming.
Menciptakan sistem pertanian yang terintegrasi di lahan terbatas di tengah kota bukanlah hal yang mustahil baginya meski rumahnya di sebuah gang kecil di Kelurahan Pasar Manggis, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan.
Dia berkebun di atap rumah yang didak itu sejak Oktober 2024 lalu. Pembangunan dak tersebut menjadi awal dari perjalanannya menjalankan aktivitas urban farming di rooftop rumah.
"Kalau sayuran tuh, yang rutin, kangkung, cabai, tomat, terong. Nah itu sama ya sesekali, bawang merah, daun bawang. Itu cuma buat kebutuhan pribadi aja. Ya kalau berlebih kita berbagi dengan kita undang panen bareng, kadang-kadang dari PKK, kelurahan juga ikut," ujar pria yang karib disapa Pak Nana itu saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, awal September ini.
Kegiatan urban farming dan beternak itu dia pelajari secara mandiri tanpa memiliki latar belakang sebagai seorang petani ataupun peternak, maupun akademisi terkait.
Selain sayuran-sayuran tersebut, beragam tanaman lainnya juga dibudidayakan Suryana. Papan nama kecil bertuliskan lengkeng dan jenis buah buahan lainnya pun terlihat ditancapkan pada pot-pot yang dibariskan di rooftop rumahnya.
Dia mengaku pupuk yang digunakan merupakan hasil olahannya sendiri dari kotoran hewan (kohe) domba ternaknya di rumah tersebut.
"Limbah dari kohe itu, nah tadi nih, keterikatan sama pertanian terintegrasi. Limbah ini itu kan bisa kita manfaatkan buat pupuk. Itu, baik kohe-nya maupun urine-nya, gitu. Jadi alasannya itu kenapa kita melihara domba," ungkapnya
Terdapat total lima domba yang ia ternak di rumahnya. Rutinitasnya beternak pun saling beriringan dengan rutinitasnya untuk mengelola urban farming.
Sejauh ini, kata Suryana, keberadaan kandang domba di lahan rumahnya itu tak menuai keberatan dari tetangga maupun warga lain.
Bagi Suryana dan keluarga, manfaat dari kegiatan urban farming akhirnya tak hanya dirasakan dari berkurangnya anggaran belanja dapur. Ia pun merasakan dampak urban farming bagi kesehatan hingga kehidupan spiritualnya.
Menurut Suryana, "Dari sisi spiritualnya kan tadi ada, memang bonus lah, dihitung sedekah karena punya nilai manfaat buat lingkungan, buat manusia, maupun buat makhluk yang lain. Ini kadang-kadang burung pada ke sini, serangga, lebah kalau lagi jagung berbuah, lebah banyak di sini. Nah, itu artinya ada siklus kehidupan yang kita buat."
Sementara itu, Sutarno dalam perbincangan sambil menyusuri setiap tanaman yang ia rawat mengatakan, terlepas dari teknologi yang digunakan ataupun model urban farming yang dilakukan, dia berharap gerakan itu bisa terus meluas dan konsisten. Terkhususnya, harapan ini ia tujukan untuk masyarakat DKI Jakarta.
Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta Hasudungan Sidabalok mengatakan dari pendataan pihaknya saat ini setidakya diperkirakan ada 1.399 titik dan lebih dari dua ribu pegiat urban farming di seluruh kawasan ibu kota itu.
"Jumlah lokasi urban farming di DKI Jakarta 1.399 titik dengan total luasan urban farming komoditas hortikultura pada tahun 2025 sejumlah 138,38 hektare," kata dia saat diwawancara CNNindonesia.com pada pertengahan September ini.
"Penggiat urban farming di DKI Jakarta berjumlah 2.814 orang (data statistik pertanian DKPKP DKI Jakarta per Agustus 2026)," sambungnya.
Selain itu, dia bilang kegiatan urban farming di Jakarta pun sejatinya telah tertulis di Instruksi Gubernur Nomor 14 tahun 2018 tentang Pelaksanaan Pertanian Perkotaan.
Lewat Ingub itu, katanya, urban farming sudah menjadi bagian gaya hidup dalam upaya menghijaukan lingkungan dan mendukung ketahanan pangan.
Seorang ASN melihat kebun urban farming di rooftop Kantor Kelurahan Guntur, Jakarta Selatan. (CNN Indonesia/Moureen Nathalia)
Di perbatasan Jakarta-Depok, tepatnya di Jagakarsa, terdapat sebuah forum warga-umumnya kelompok muda-petani kota di kecamatan itu yang menamai diri mereka sebagai Majelis Sayur. Secara formal, beberapa pegiat mengatakan Majelis Sayur mulai dirintis sekitar 2021 silam, berawal dari sebuah acara terkait pangan dan tanaman hortikultura yang mengumpulkan mereka.
Julian Riezki (40) salah satu penggiat di Majelis Sayur menceritakan Jagakarsa pada dasarnya bukan lagi kegiatan urban farming, tetapi sudah lebih menjurus pada kebudayaan budi daya pertanian di kota (urban agriculture).
"Jagakarsa ini menurut saya sudah bukan lagi sekedar urban farming, tapi urban agriculture. Bukan lagi cuma 'menanam di kota', tapi ada sebuah ikatan antara warga dan sumber kehidupan. Jadi tempat sebuah produksi kehidupan dengan budayanya sendiri," kata dia saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Jumat (11/9) petang.
Salah satu dari lima pendiri dari Selasarasa Foodlab itu mengatakan dia tak berangkat dari kertas kosong untuk mendefinisikan hal tersebut. Pasalnya, kata pria yang karib disapa Juli, dalam sejarahnya kawasan Jagakarsa itu adalah ladang perkebunan atau pertanian dan peternakan.
Menurutnya hal itu bisa dilihat dari toponimi daerah-daerah di sana yang dinamai dari nama-nama komoditas holtikultura seperti Jalan Durian, Pepaya, Kecapi, Matoa, hingga Kelurahan Srengseng Sawah.
Selain itu, sambungnya, masyarakat Jagakarsa juga pernah punya upacara syukuran atas hasil panen seperti Serentaun yakni Sumbang Bumi.
Oleh karena itu, katanya, Majelis Sayur hadir sebagai bagian dari kesadaran bersama sesama warga Jagakarsa-yang kebetulan bertani hingga berkebun-untuk saling menjalin komunikasi, menguatkan, dan berkembang bersama.
"Majelis Sayur ini konsepnya bertetangga. Kita kalau ketemuan, walau masih belum terjadwal sering di tempat yang berbeda. Keliling kebunlah," kata dia.
"Nah, kenapa bermajelis? Karena sepakatnya ya semua setara. Enggak ada ketuanya, ketuanya ya sama-sama nih. Semua orang ini ya ketuanya dan semua orang ini ya anggotanya," sambung Juli yang menegaskan majelis itu tak terkait dengan kepentingan apapun, apalagi politik.
Apa yang disampaikan Juli itu diamini Abdul Latif (36) secara terpisah. Latif, pemuda Jagakarsa yang berkebun di lahan bantaran kali yang dinamainya Pondok Aselih menegaskan tak ada yang namanya 'ketua-ketua' di dalam Majelis Sayur.
Tapi, kalau belakangan ada pihak luar yang ingin tahu tentang Majelis Sayur, mereka memang ada yang bisa diajak ngobrol terlebih dulu sebelum ke lainnya.
Selain Juli dan Latief, beberapa yang jadi bagian Majelis Sayur itu di antaranya ada Ibnuh yang bergiat hidroponik di kebun Youngsayur, Ahmad Fahrizal yang melakukan pembibitan alpukat serta budidaya sayur bersama Peralpukatan Duniawi.
Lalu ada Sophia Louretta yang spesifik membuat kompos dan media tanam lewat Tanialit, dan seorang ibu rumah tangga Lily Almasih yang berkebun di atap rumahnya (Kebun Emeng).
Latif mengatakan seiring waktu, kini Majelis Sayur sedang berkolaborasi untuk membuat Sekolah Tani Kota. Untuk kurikulumnya, kata dia, bekerja sama dengan sejumlah pihak termasuk beberapa orang yang tergabung dalam arena kreatif di Jagakarsa, Gudskul.
Untuk kegiatan selain berkolaborasi di bidang ilmu, Latif mengaku berharap Majelis Sayur juga bisa membangun 'Pasar Bersama', setidaknya di Jagakarsa.
"Di Jakarta ini kan pasarnya besar ya, [panen dari Bogor] kan suplainya ke sini. Nah, gimana kita bisa bangun juga agar bisa mendapatkan pasar itu yang terdekat, ya di kecamatan ini," kata Latif.
"Nah kita bagian dari solusi itu," sambungnya.
Walaupun demikian diakui Latif, Rizal, hingga Lily saat berbincang secara terpisah masing-masing sebetulnya sudah memiliki pasar dan metode penjualan sendiri. Tapi, kata mereka kompak secara terpisah, Majelis Sayur itu jadi wadah komunikasi dan kolaborasi yang memberi energi baru dalam kegiatan masing-masing.
Tak hanya dimonopoli warga biasa, pemerintah kota dan jajarannya turut turun tangan membina dan mengurus urban farming, termasuk di lingkungan perkantoran masing-masing. Salah satunya di Kantor Kelurahan Guntur, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan.
Dari kejauhan, Kantor Kelurahan Guntur, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan tampak seperti kantor pemerintahan daerah seperti biasanya.
Seluruh pegawai hingga petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) terlihat berkumpul di lantai dasar untuk mengikuti apel pada Senin (7/9), sekitar pukul 08.00 pagi.
Pasca-apel, sejumlah petugas PPSU langsung beranjak naik ke lantai 5 kantor. Bukan untuk istirahat, melainkan untuk mengelola urban farming yang ada di rooftop kantor.
Sebelumnya, rooftop ini hanyalah tempat terbengkalai yang digunakan untuk menaruh sejumlah barang tidak digunakan. Namun, sejak 2 tahun lalu, tempat ini disulap menjadi tempat untuk budi daya tanaman.
"Karena di wilayah Kelurahan Guntur kebetulan sudah padat, karena bertepatan di tengah kota, untuk lahan makin susah. Jadi jalan satu-satunya harus memanfaatkan lahan yang ada, seperti rooftop dan pekarangan rumah," ujar Lurah Guntur, Teguh Tri Atmanto, saat berbincang CNNIndonesia.com pertengahan September ini.
Bukan untuk sembarang alasan, jelas Teguh, urban farming ini ditujukan untuk mendukung ketahanan pangan warga serta menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih hijau.
"Selain sebagai ketahanan pangan dan penghijauan, juga sebagai edukasi kepada masyarakat. Kan kita harus memberi contoh dulu," lanjutnya.
Pengelolaan urban farming ini tak hanya melibatkan satu pihak tertentu. Kelurahan, petugas PPSU, hingga anggota Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) turut andil dalam kegiatan ini. Tidak disalurkan secara acak, hasil panen ini utamanya dibagikan secara khusus kepada warga yang membutuhkan.
"Pengelolaannya kalau sudah panen diserahkan ke PKK. Kan PKK yang tahu mana yang membutuhkan karena dia berhubungan langsung sama masyarakat," lanjutnya.
Hasil panen dari urban farming ini tidak ucuk-ucuk ada. Para pengelola, yang awalnya tidak yakin bisa menanam karena tidak ada lahan kosong, telah melalui berbagai proses belajar sejumlah pihak-termasuk PPSU yang ditugaskan--seiring berjalannya waktu.
"Belajar, kita semua dari belajar, sih. Ya coba, terus kita kan di sini kan kita juga dimonitori dari KPKP, dari Dinas KPKP untuk penanaman, untuk ketahanan pangan. Banyak informasi. Jadi dari KPKP kita kalau seandainya ada kendala apa, kita bisa main ke KPKP, kita butuh apa. Ya, terus kita semua dari nol sebenarnya," ujar Harno, salah satu petugas PPSU yang bertugas mengelola urban farming.
Ketika dikunjungi tim CNNIndonesia.com, petugas sedang menanam kembali pakcoy di sistem hidroponik ini. Tak hanya menanam, mengairi, dan menuai, para petugas juga pada akhirnya belajar terkait menjaga tanaman dari hama.
"Galon-galon yang udah enggak kepakai, mungkin kan orang nggak ngerti, buat sebagai pot. Kita isi tanamannya, ya alhamdulillah kan ada cabai, jagung, ya macam-macam, kan nyatanya hidup. Kalau seandainya kita semua mau nanam gini, kebutuhan ibaratnya ngurangin biaya," ujar salah satu PPSU yang mengelola urban farming di kantor kelurahan itu, Harno.
Terpisah, Selain di Kantor Kelurahan Guntur itu, Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta Hasudungan Sidabalok mengatakan, "Banyak Instansi di Pemprov DKI Jakarta secara mandiri sudah melakukan urban farming baik secara konvensional maupun dengan teknologi vertikal garden, hidroponik, rooftop hingga green house."
Pelaksanan itu tak lepas dari Ingub 14/2018, Desain Besar Pertanian Perkotaan DKI Jakarta (2018-2030), Instruksi Sekretaris Daerah Ibukota Jakarta Nomor 40 tentang tentang Pelaksanaan Pertanian Perkotaan Melalui Pelaksanaan Gerakan Menaman Tanaman Pangan Pendamping Beras untuk Ketahanan Pangan Keluarga di DKI Jakarta.
"DKI Jakarta memang bukan sentra produksi pangan namun kebutuhannya sangat tinggi akan pasokan pangan, sehingga sebagai upaya ketahanan pangan pada lingkup keluarga melalui diversifikasi sumber pangan pada komoditas tanaman pangan pendamping beras," kata dia.
"Melalui kegiatan urban Farming dapat menjadi solusi di tengah luasan lahan di perkotaan yang semakin terbatas," sambungnya.
Untuk membantu warga, pihaknya secara rutin melakukan pembinaan, pendampingan dan memfasilitasi kelompok dan penggiat urban farming melalui pelatihan, monoitoring pemberian bantuan sarana produksi (saprodi). Bahkan, sambungnya, ada juga pengiriman tim mobile secara berkala untuk membantu kemungkinan risiko penyakit tanaman.
"Melalui UPT Pusat Pengembangan Benih dan Proteksi Tanaman, DKPKP DKI Jakarta secara rutin menerjunkan mobil klinik tanaman dan tim brigade proteksi tanaman sebagai sarana konsultasi, pengecekan tanaman skala lab mobil, rekomendasi hingga penanganan serangan organisme penggangu tumbuhan (OPT) kepada masyarakat secara gratis," tuturnya.



