Turki mengumumkan siap membantu Arab Saudi yang dalam beberapa pekan terakhir tengah menjadi target serangan milisi Houthi Yaman.
Dalam pernyataan pada Sabtu (19/9), Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan mengatakan Ankara berkenan untuk menyediakan beberapa peralatan militer apabila Saudi membutuhkan.
"Kami melihat ada serangan yang sangat serius terhadap integritas teritorial dan kedaulatan Arab Saudi. Kami memiliki perjanjian aliansi dalam pakta kami. Kami sangat solid dalam hal ini," kata Fidan kepada stasiun televisi NTV.
"Mereka mungkin punya beberapa kebutuhan militer, terutama pada beberapa masalah teknis. Kami tidak akan keberatan untuk memenuhi kebutuhan tersebut," lanjutnya, seperti dikutip Reuters.
Pakta perjanjian yang dimaksud Fidan merujuk pada "Perjanjian Pertahanan Bersama Mekkah", kesepakatan serupa NATO yang ditandatangani oleh Arab Saudi, Turki, dan Pakistan pada Agustus. Perjanjian ini menetapkan bahwa serangan terhadap salah satu anggota akan dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota.
Sejak beberapa bulan terakhir, Saudi dihajar habis-habisan oleh Houthi buntut serangan di bandara Sanaa pada 13 Juli yang dituduh Houthi didalangi Saudi.
Berbagai wilayah dan infrastruktur minyak Saudi menjadi target serangan Houthi sejak itu. Salah satu serangan bahkan menyasar ibu kota Riyadh hingga menewaskan satu orang dan melukai sejumlah lainnya.
Analis pertahanan Alex Afirraz Scheers mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Turki tampaknya berniat memberikan dukungan defensif dan ofensif, serta bantuan intelijen kepada Saudi menyusul konflik dengan Houthi.
"Dari sisi ofensif, Riyadh dapat meminta kemampuan drone dan rudal Turki yang telah terbukti dalam pertempuran... untuk memberikannya opsi serangan asimetris terhadap lokasi peluncuran Houthi, sesuatu yang bisa dibilang kurang dimiliki sejak Washington menolak permintaan dukungan langsung," katanya.
Amerika Serikat selaku sekutu Saudi telah menolak permohonan Riyadh untuk membantu memerangi Houthi. Presiden AS Donald Trump baru-baru ini mengaku telah berkomunikasi dengan Houthi, di mana kelompok tersebut menyatakan tak akan menyerang AS jika Washington tak ikut campur.
Menurut peneliti senior di King's College London Nawaf Obaid, Saudi dan sekutu saat ini sedang menyusun respons militer terkoordinasi untuk membalas serangan bertubi-tubi Houthi.
"Ada koalisi yang terbentuk seputar ancaman tersebut mengenai bagaimana cara yang tepat untuk menanggapi apa yang telah dilakukan Houthi," kata Obaid kepada Al Jazeera, yang belum bisa diverifikasi.
Obaid meyakini tanggapan tersebut "akan berurutan, sangat besar, dan mencakup darat, laut, serta udara".
Pakistan, negara yang juga meneken pakta Mekkah, sementara itu menyampaikan hingga saat ini tidak ada diskusi mengenai reaksi militer dari Islamabad atas serangan Houthi terhadap Saudi. Kendati begitu, Pakistan menekankan akan bertindak ketika "saatnya tiba".
Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif awal bulan ini mengatakan bahwa serangan apa pun terhadap Arab Saudi dapat mengaktifkan pakta Mekkah.
"Kami terikat oleh syarat dan ketentuan perjanjian ini," katanya dalam sebuah wawancara pada 8 September.



