Nilai tukar rupiah berada di level Rp17.694 per dolar AS pada perdagangan Selasa (15/9). Mata uang Garuda melemah 25 poin atau 0,14 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Pergerakan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang melemah terhadap dolar AS.

Yuan China terdepresiasi 0,06 persen, ringgit Malaysia melemah 0,16 persen, dolar Singapura turun 0,18 persen, dan yen Jepang terkoreksi 0,39 persen.

Won Korea Selatan juga tercatat melemah 1,08 persen, sementara peso Filipina terapresiasi 0,04 persen, dan dolar Hong Kong bergerak datar.

Sementara itu, mata uang negara maju bergerak bervariasi. Euro Eropa melemah 0,12 persen, poundsterling Inggris turun 0,19 persen, dan dolar Australia terkoreksi 0,19 persen. Dolar Kanada juga melemah tipis 0,01 persen.

Sebaliknya, franc Swiss menguat 0,05 persen terhadap dolar AS.

Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong mengatakan rupiah tertekan oleh sejumlah faktor eksternal.

"Indonesia ditutup melemah terhadap dolar AS, umumnya tertekan oleh faktor eksternal dari terus naiknya indeks dolar AS, imbal hasil obligasi AS, dan harga minyak mentah dunia yang disebabkan oleh eskalasi di Timur Tengah, serta antisipasi kenaikan suku bunga dan sikap hawkish The Fed besok," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.