Pakar menyebut daratan baru di sekitar Gunung Anak Krakatau bukan gunung api baru atau "cucu Krakatau", melainkan endapan material vulkanik.

Daratan baru seluas lebih dari 30 hektare ditemukan di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau pasca erupsi gunung vulkanik tersebut.

Edukator Mitigasi Bencana Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono megatakan daratan tersebut terdiri dari material vulkanik seperti abu, batuan, dan lava hasil erupsi Gunung Anak Krakatau yg mengendap di laut.

"Proses penumpukan endapan tersebut berlangsung bertahap seiring meningkatnya aktivitas vulkanik, sampai akhirnya muncul ke permukaan," ujar Daryono kepada CNNIndonesia.com, Rabu (23/9).

Daryono mengatakan terbentuknya daratan baru di antara Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung dipengaruhi oleh kombinasi faktor geologis dan oseanografis

Dasar laut di area cekungan atau kaldera akibat letusan Gunung Krakatau 1883 tergolong dangkal, sehingga memungkinkan material erupsi lebih cepat menumpuk tinggi. Selain itu, lontaran batuan, magma, dan aliran lava selama erupsi memang dominan menuju ke area tersebut.

Dinamika arus serta gelombang laut Selat Sunda juga memengaruhi perpindahan endapan karena membawa material erosi ringan ke titik-titik perairan yang lebih tenang, sampai akhirnya mengendap secara permanen.

Endapan ini mungkin saja makin membesar atau justru lenyap kembali, tergantung seberapa kuat pengaruh aktivitas vulkanik dan erosi alam di perairan tersebut.

Jika Gunung Anak Krakatau terus mengalami erupsi, kata Daryono, pasokan material baru akan membuat daratan tersebut makin meluas. Kepadatannya juga akan semakin kokoh sebab terus dilapisi lava cair yang membeku menjadi batuan keras.

Namun sebaliknya, jika erupsi terhenti, hantaman gelombang dan abrasi laut dinilai dapat mengikis endapan pasir yang belum padat hingga menghilang dari permukaan.

Selain itu, longsoran bawah laut atau letusan erupsi besar juga disebut bisa menghancurkan struktur muda ini dalam waktu singkat.

Menurut Daryono, daratan ini belum dapat dikategorikan sebagai gunung api baru karena tidak memenuhi 3 kriteria geologis utama gunung api. Tiga kriteria yang dimaksud mencakup saluran magma, aktivitas erupsi, dan struktur geologis.

Ia menjelaskan sebuah daratan harus memiliki saluran magma mandiri yang terhubung langsung ke dapur magma melalui celah rekahan baru dan terpisah dari kawah induknya untuk dapat disebut gunung api.

Kemudian, daratan itu harus menghasilkan aktivitas erupsi magmatik sendiri dengan memuntahkan magma atau gas dari kawahnya, bukan sekadar menampung muntahan dari gunung tetangga.

Lalu, daratan tersebut harus memiliki struktur geologis serta deformasi atau perubahan bentuk sendiri melalui aktivitas gempa vulkanik lokal atau pembengkakan tanah yang terpusat tepat di bawah daratan baru tersebut.

"Menghadapi fenomena ini, masyarakat diimbau untuk tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu spekulatif yang beredar di media sosial. Kemunculan daratan baru ini adalah proses sedimentasi vulkanik yang lumrah di kawasan gunung api aktif," tegas Daryono.

Masyarakat juga diimbau untuk tetap tenang, tidak panik, dan selalu mematuhi rekomendasi jarak aman yang ditetapkan oleh petugas di lapangan, yakni pada radius 2 kilometer dari pusat erupsi.

Sebelumnya, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM, Rita Susilawati, menyampaikan bahwa perluasan daratan ini terdeteksi melalui evaluasi citra satelit Sentinel.

"Penambahan daratan pada tubuh Gunung Anak Krakatau terjadi di sektor barat laut, barat, hingga barat daya. Ini merupakan akibat dari pengendapan material piroklastik dan aliran lava hasil erupsi menerus, dengan total penambahan luasan mencapai 32,8 hektare," jelas Rita dalam keterangan resminya yang diterima pada Kamis (24/9).

Selain perluasan pada tubuh utama gunung, citra satelit juga menangkap fenomena kemunculan gumuk pulau kecil di sebelah barat laut dan tenggara Anak Krakatau. Munculnya kedua daratan baru ini diduga kuat berkaitan erat dengan erupsi menerus yang berlangsung selama kurang lebih 25 jam.

Rita memaparkan, interpretasi sementara PVMBG menunjukkan bahwa magma encer yang keluar saat letusan mencapai permukaan melalui jalur bukaan atau rekahan yang memanjang dari barat laut ke tenggara. Material erupsi yang menyembur dari jalur tersebut akhirnya menumpuk dan membentuk daratan baru di lokasi terpisah.