Hitung cepat hasil pemilihan umum (pemilu) Israel telah mencapai 90 persen, tetapi hingga kini tak ada blok yang mencapai suara mayoritas baik dari aliansi Benjamin Netanyahu maupun Gadi Eisenkot.
Dalam hitung cepat hingga Kamis (29/10) yang dikutip Jerusalem Post, blok Netanyahu meraih 52 kursi, dan blok Eisenkot 48, sementara parta-partai Arab mengamankan 20 kursi, masing-masing Partai Ra'am 8 dan Joint List 12.
Hasil sementara itu menunjukkan penurunan signifikan dari pemilu sebelumnya saat koalisi Netanyahu mengantongi 64 kursi.
"Blok perdana menteri mengalami kekalahan telak. Ini adalah kehancuran total, dan publik telah menyuruh mereka pulang," kata anggota blok oposisi Yair Lapid, demikian dikutip Al Jazeera.
Sementara itu, Eisenkot mengatakan hasil sementara menunjukkan "kurangnya kepercayaan" publik terhadap Netanyahu.
Untuk membentuk pemerintahan, koalisi harus mengantongi minimal 61 kursi suara. Namun, kedua blok itu belum ada yang mencapai angka ini.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Foto: AFP/JACK GUEZ
Jika Komite Pemilu Pusat Israel selesai menghitung surat suara dan hasil resmi keluar, presiden akan memanggil perwakilan partai yang lolos ke parlemen meski tak ada yang meraih suara mayoritas.
Presiden kemudian akan menganalisis dan memilih calon yang dinilai sangat potensial untuk membentuk koalisi dan pemerintahan sehingga kursi 61 bisa tercapai. Biasanya, dia akan menunjuk pemimpin partai dengan suara terbanyak.
Namun, tak menutup kemungkinan presiden memilih calon dari partai dengan suara yang tak begitu besar. Ini pernah terjadi saat presiden menunjuk Naftalli Bennet untuk menjadi PM.
Setelah presiden menunjuk kandidat potensial PM, dia akan memberi waktu hingga 28 hari agar calon itu membentuk koalisi dan pemerintahan.
Jika gagal, presiden akan memilih kandidat lain dan memberi waktu 28 hari untuk tujuan yang sama. Jika penunjukkan ini gagal, mandat dikembalikan ke parlemen. Parlemen diberi waktu 21 hari untuk mencari calon terkuat yang bisa mengumumpulkan 61 dukungan.
Jika periode 21 hari ini gagal lagi, parlemen secara otomatis dinyatakan bubar dan Israel harus menggelar pemilu ulang dalam waktu 90 hari.
Sejumlah pengamat sudah memprediksi pembentukan koalisi akan sangat sulit.
"Ada banyak isu yang akan membuat pembentukan koalisi menjadi sangat sulit," Peneliti di lembaga think tank Council on Foreign Relation (CFR) Elliot Abrams.
"Haruskah partai-partai Arab berada dalam koalisi baru atau dikecualikan? Bagaimana dengan koalisi dengan kaum Haredim [ultra-Ortodoks], yang menuntut agar pemuda mereka tidak direkrut menjadi tentara? Haruskah tokoh-tokoh oposisi menyetujui koalisi yang dipimpin oleh Netanyahu jika ia mengecualikan sayap kanan ekstrem, atau apakah ia tidak dapat diterima sekarang, setelah 7 Oktober?" imbuh dia.
Beberapa pakar mengatakan hasil pemilu sulit diprediksi, sebagian karena keretakan dalam koalisi Netanyahu di pemerintahan sekarang. Mereka punya agenda dan kepentingan masing-masing, sehingga tak keberatan untuk menyebrang dan mendukung lawan Netanyahu.



