Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) mencatatkan total laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk, turun 61,0% dari US$77,6 juta menjadi US$30, juta hingga kuartal III tahun ini.Mengutip laporan keuangan CDIA melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), penurunan laba tersebut disebabkan oleh keuntungan nilai."Dipengaruhi oleh keuntungan nilai wajar yang dibukukan pada periode yang sama tahun sebelumnya," tulis manajemen, Kamis (29/10/2026).Penurunan laba terutama terkait pos keuntungan lain-lain, yang turun tajam dari US$45,3 juta menjadi US$3,4 juta. Akibatnya, laba sebelum pajak turun 47,4% menjadi US$44,5 juta dari US$84,6 juta. Beban pajak penghasilan justru naik dari US$1,15 juta menjadi US$12,3 juta.
Tekanan juga bersal dari beban umum dan administrasi naik dari US$7,8 juta menjadi US$13,3 juta, dan beban keuangan naik dari US$20,9 juta menjadi US$40,2 juta. Beban penjualan naik dari US$994 riu menjadi US$ 1,06 juta.
Sebagian tekanan tertahan oleh kenaikan pendapatan keuangan dari US$21,08 juta menjadi US$29,8 juta. Pendapatan dari aset keuangan relatif datar di US$16,8 juta dari sebelumnya US$16,8 juta, dan bagian laba entitas asosiasi naik dari US$9,05 juta menjadi US$10,4 juta. Pos keuntungan kurs mata uang asing berbalik dari rugi US$1,8 juta menjadi untung US$12,9 juta.Pendapatan hingga kuartal III naik 16,4% menjadi US$122 juta dari US$104,8 juta. Beban pokok pendapatan juga naik 19,3% dari US$80,7 juta menjadi US$96,4 juta. Laba kotor hanya naik 6,5% menjadi US$25,6 juta dari US$24,04 juta, dan margin laba kotor menyempit dari 22,9% menjadi 21,0%.Meskipun demikian, manajemen menyampaikan, kinerja bisnis infrastruktur stabil serta adanya peningkatan kontribusi pendapatan berulang dan berbasis kontrak. Selain itu, pendapatan dari pelanggan pihak ketiga berkontribusi sekitar 80%, sementara lebih dari 90% pendapatan berasal dari kontrak, sehingga mendukung visibilitas pendapatan dan diversifikasi.Realisasi investasi juga mendorong perluasan kapabilitas operasional dan portofolio infrastruktur Perseroan. Hingga 30 September 2026, seluruh dana hasil IPO untuk investasi kapal telah terealisasi di dalam Grup, sementara penggunaan dana untuk Kepelabuhanan & Penyimpanan telah mencapai 65%.Manajemen juga menyebut, proyek CDIA juga terus berjalan menuju target operasi komersial pada 2027, yang akan memperluas kapabilitas dan membuka potensi kontribusi pendapatan tambahan. Pada segmen Air, peresmian Instalasi Pengolahan Air Krenceng II berkapasitas 600 liter per detik pada Agustus 2026, memperkuat penyediaan air bagi pelanggan industri dan residensial di Cilegon dan sekitarnya.Pada segmen Kepelabuhanan & Penyimpanan, CDI juga memasuki segmen penyimpanan bitumen melalui fasilitas baru berkapasitas 12.000 m³ di Merak yang diresmikan pada Oktober 2026, memperluas kapabilitas penyimpanan sekaligus mendukung kebutuhan material infrastruktur domestik.Pada segmen Logistik, CDI terus memperluas dan mendiversifikasi platform maritimnya. Kapal Boreas dan Novah yang masing-masing berkapasitas 9.000 DWT memperluas layanan transportasi bahan kimia cair pada rute Tiongkok, Thailand, dan Indonesia. Konsolidasi PT Elpi Trans Cargo ("ETC") menambah kapabilitas kapal tug-and-barge untuk dry bulk serta layanan pendukung offshore, termasuk Elara Dalimbar 1, kapal pendukung serbaguna berbendera Indonesia pertama dengan klasifikasi DP Class III.Investasi CDI sebesar US$ 90 juta untuk kepemilikan 40% saham di PT Armada Maritim Persada ("AMP") turut memperluas eksposur ke logistik pertambangan dan pengelolaan pelabuhan. Penambahan Boreas, Novah, ETC, dan AMP memperluas eksposur CDI ke transportasi bahan kimia dan industri, pertambangan, minyak & gas, layanan subsea, energi offshore, serta infrastruktur maritim. Investasi tersebut memperkuat basis pendapatan berulang, mendiversifikasi pelanggan dan sumber pendapatan, serta memperluas peluang layanan infrastruktur terintegrasi.Perluasan platform infrastruktur CDI tetap didukung oleh fleksibilitas keuangan yang kuat. Hingga 30 September 2026, CDI memiliki likuiditas sebesar US$ 747,9 juta untuk mendukung pendanaan proyek dan peningkatan kontribusi aset baru.Posisi keuangan tersebut juga memungkinkan Perseroan membagikan dividen interim sebesar US$ 10,0 juta untuk semester pertama 2026, dengan tetap menjaga ruang untuk pertumbuhan selektif.Ke depan, CDI tetap fokus mendorong pertumbuhan laba berkelanjutan melalui peningkatan kontribusi aset baru, progres proyek menuju operasi komersial, serta basis pelanggan pihak ketiga dan pendapatan berbasis kontrak yang terdiversifikasi."Dengan disiplin keuangan dan investasi yang selaras dengan kebutuhan pasar, Perseroan terus memperkuat posisinya sebagai platform infrastruktur terintegrasi yang mendukung pertumbuhan industri dan ekonomi di Indonesia dan kawasan," tutupnya.



