Koalisi partai Arab, Joint List dan Ra'am di Israel, diprediksi bakal meraih 20 kursi parlemen dan berpeluang jadi penentu kursi perdana menteri.
Namun, calon terkuat Benjamin Netanyahu dan Gadi Eisenkot justru enggan menarik mereka ke koalisi.
Hingga saat ini, suara yang sudah terhitung Komite Pemilihan Pusat mencapai 90 persen dan blok Netanyahu maupun anti-Netanyahu belum ada yang mencapai suara mayoritas 61 dari 120 kursi.
Hasil perhitungan sementara menunjukkan Netanyahu memperoleh kursi 52 dan aliansi Eisenkoot meraih 48 kursi.
Lalu, mengapa Netanyahu dan Eisenkot menolak Partai Arab padahal mereka dianggap kunci untuk menentukan perdana menteri?
Netanyahu dan Eisenkot menolak gagasan bermitra dengan partai-partai Arab karena alasan perbedaan nilai.
Analis politik Palestina Ahmed Najar menganggap keengganan kedua blok itu menarik partai Arab lantaran perbedeaan ideologis partai.
"Eisenkot telah memberlakukan uji loyalitas ke pertai-partai Arab dan menolak bergantung ke mereka, padahal perhitungan elektroal membuat dukungan mereka sangat diperlukan," kata Najar ke Al Jazeera, Rabu (28/10).
Eisenkot padahal berpeluang menguasai kursi parlemen jika bergabung dengan partai Arab dan menggulingkan Netanyahu, tujuan yang sama di kedua pihak ini. Kalau saja mereka bergabung, kursi parlemen yang diraih bisa mencapai 66.
Najar bahkan menilai kemitraan dengan partai Arab tak hanya memungkinkan tapi satu-satunya jalan yang "realistis" bagi Eisenkot.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Netanyahu bertolak belakang dengan nilai dan visi partai Arab. (REUTERS/Ammar Awad)
Netanyahu sementara itu bertolak belakang dengan nilai dan visi partai Arab. Di berbagai kesempatan dia juga kerap menyatakan partai Arab mendukung terorisme dan menghancurkan negara Yahudi. PM Israel itu tentu akan memilih partai sayap kanan atau ultraortodoks alih-alih partai Arab.
Pakar lain dari lembaga think tank Palthink, Omar Shaban, mengatakan pemimpin Partai Ra'am Mansour Abbas sudah memberi sinyal mau bergabung dengan Eisenkot jika kandidat mereka terpilih. Namun, partai ini mengajukan syarat bahwa masalah keamanan internal akan ditatangani partai Arab.
Abbas bahkan sudah menunjuk anggota parlemen Yahudi, Yoav Segalovitz, untuk menduduki posisi nomor dua dalam daftar calon Ra'am.
Kolaborasi semacam itu, jika terwujud, bisa membantu memelihara hubungan yang lebih baik antara warga Palestina dan warga Yahudi Israel.
Senada, pemimpin Joint List Yousef Jabareen mengatakan siap bertanggung jawab untuk menjatuhkan koalisi sayap kanan Netanyahu.
"Pemerintah sudah membuat kehidupan setiap warga Arab sengsara," kata dia.
Anggota lain dari Joint List Ahmad Tibi juga sudah mengulurkan tangan untuk bergabung dengan oposisi guna menggulingkan Netanyahu.
Pemimpin partai Demokratik yang tergabung anti-Netanyahu, Yair Golan, mendesak sekutu untuk bekerja sama dengan partai Arab.
"Kita tak boleh lagi menerima pembagian rasis Netanyahu antara suara Yahudi dan suara Arab," kata Golan.
Meski partai Arab sudah sangat jelas menyampaikan kesediaannya, Eisenkot tetap perlu banyak pertimbangan. Sebab, kemitraan ini menghadapi hambatan seperti unsur yang lebih radikal dalam masyarakat Israel.
"Mereka tak mau pemerintah Israel didukung atau bergantung ke suara Arab," ujar Shabaan.



