Pandemi Covid-19 pada 2020 silam telah mengubah banyak hal dalam kehidupan seorang wartawan di Tangerang, Banten, Kusnaedi (46).

Kala itu, Kusnaedi--bekerja sebagai kontributor untuk salah satu stasiun televisi swasta yang bermarkas di Jakarta--turut merasakan dampak pandemi ketika industri jurnalistik melakukan pengurangan pegawai.

Di tengah situasi tersebut, pria yang kala itu baru masuk usia 40 melihat lahan tidur di kampung halamannya di Desa Cileles, Kecamatan Cileles, Kabupaten Lebak, Banten. Dia lalu turut mencoba memanfaatkan lahan tidur di kampung halamannya itu guna bertani pisang.

Saat menceritakan kembali pengalamannya kepada CNNIndonesia.com, dia mengaku ide itu berawal dari keresahannya melihat para petani di kampung yang kesulitan memasarkan hasil pertanian.

"Banyak petani di kampung yang kebingungan mendistribusikan hasil pertanian. Itu awalnya mimpi saya," kata sosok yang karib disapa Bang Baduy itu Senin (14/9).

Berbekal pengalaman dan jaringan yang dimilikinya selama menjalankan aktivitas jurnalistik, Kusnaedi kemudian mempelajari rantai distribusi hasil pertanian di Banten.

Bukan hanya itu, dia juga mengikuti berbagai pelatihan dan seminar mengenai budidaya pisang. Waktu demi waktu berlalu, bersama kelompok tani Jawara Tani Rangkas (Jatanras), Kusnaedi kemudian memperoleh izin Hak Guna Usaha (HGU) dari Perhutani untuk mengelola lahan tidur seluas lima hektare selama 35 tahun.

Lahan tersebut dijadikan sebagai percontohan sekaligus diharapkan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.

Kusnaedi kemudian mengajak sembilan warga di kampung halamannya untuk menggarap lahan tidur yang telah didapatkan izin bersama-sama tersebut.

Sebagai komoditas, mereka memilih menanam pisang jenis Cavendish alias pisang ambon putih atau pisang meja. Dia bilang jenis pisang itu dipilih karena berbagai factor. Pertama, karena dinilai sesuai dengan kondisi lingkungan setempat. Selain itu, dan juga yang paling utama, pisang tersebut memiliki nilai jual yang lebih baik dibandingkan sejumlah varietas lainnya.

Dengan memanfaatkan tunas unggulan sebagai bibit, lahan tidur milik Perhutani itu perlahan diubah menjadi kebun pisang produktif. Namun, kata Bang Baduy, proses awal penggarapan lahan bukan perkara mudah. Pasalnya, sebagai lahan tidur, maka pembukaan area membutuhkan biaya operasional cukup besar. Mereka pun berstrategi dengan dengan menggandeng sejumlah instansi terkait. "Selain biaya beli tunas pisang unggulan, biaya operasional pembukaan lahan cukup besar, sekitar Rp100 juta per hektare yang diperlukan hingga panen," ujarnya.

Untuk bibit, Kusnaedi membeli tunas pisang dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Bibit-bibit itu kemudian ditanam dengan jarak sekitar dua hingga tiga meter, menyesuaikan kontur lahan.

Dalam satu hektare lahan, sekitar 2.000 pohon pisang dapat ditanam. Masa tanam hingga panen berkisar tujuh hingga 12 bulan.

"Saat ini biasanya proses panen dilakukan dua minggu sekali, dengan rata-rata lima ton per sekali panen," kata Kusnaedi.

Proses pemanenan masih dilakukan secara tradisional. Setelah dipetik, pisang dibersihkan dan disortir sebelum dikemas dan dikirim ke lokasi pematangan atau ripening.

Panen perdana berlangsung pada 2021. Untuk pemasaran, Kusnaedi sempat bekerja sama dengan perusahaan agrobisnis selama dua tahun. Selain itu, ia juga menjalin kerja sama dengan sejumlah pihak untuk memasok kebutuhan pisang ke pasar-pasar tradisional.

Perjalanan Kusnaedi sebagai petani kemudian berkembang. Pada 2025, ia turut menjadi pemasok pisang untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah di Banten.

"Alhamdulillah, setelah melalui proses cukup panjang saat ini diberi kepercayaan buat memasok kebutuhan MBG," tutur ayah tiga anak tersebut.

Meningkatnya kebutuhan pisang membuat Kusnaedi berharap dukungan pemerintah, baik pusat maupun daerah, terutama dalam penyediaan alat pertanian, pupuk, serta perbaikan akses jalan menuju lokasi perkebunan. Menurutnya, akses jalan menjadi salah satu kendala utama dalam proses distribusi hasil panen, terutama ketika musim hujan.

"Iya, kendalanya kalau musim hujan proses distribusi terganggu karena area kebun yang berada di pedalaman," ungkapnya.

Kini, upaya Kusnaedi bersama kelompok tani Jatanras terus berkembang. Pada 2026, lahan tidur yang berhasil digarap kelompok tersebut telah mencapai sekitar 30 hektare dengan jumlah anggota sekitar 80 orang.

Dari usaha tersebut, Kusnaedi mengaku kini mampu memperoleh omzet sekitar Rp30 juta per bulan.

Tak ingin berhenti pada usaha pribadi, ayah tiga anak itu juga aktif mengedukasi masyarakat dan kelompok tani mengenai budidaya pisang Cavendish. Ia membantu masyarakat yang tertarik menggarap lahan tidur, mulai dari proses pembukaan lahan hingga penyediaan bibit tunas pisang.

Bagi Kusnaedi, bertani bukan sekadar pilihan setelah pandemi menghantam pekerjaannya sebagai jurnalis. Lebih dari itu, aktivitas tersebut menjadi upayanya membuka peluang ekonomi baru sekaligus membantu petani di daerahnya mendapatkan akses pasar yang lebih baik.

Di sisi lain, di sela kegiatannya berkebun, ketika pandemimulai berakhir, Kusnaedi alias Bang Baduy itu pun akhirnya dipercaya juga menjadi jurnalis sebagai kontributor salah satu stasiun televisi swasta yang juga berpusat di Jakarta. Bukan cuma itu, dia juga merupakan bagian dari organisasi profesi Ikatan Jurnalistik Televisi Indonesia (IJTI) di Banten.