Jakarta, CNBC Indonesia - Liu Zhiyu pernah dikenal sebagai salah satu jenius matematika China. Ia meraih medali emas Olimpiade Matematika Internasional (IMO), menolak kesempatan kuliah dengan beasiswa penuh di universitas bergengsi Massachusetts Institute of Technology (MIT), Amerika Serikat (AS), lalu memilih menjadi biksu Buddha.
Kini, jalan hidup Liu kembali berubah. Setelah meninggalkan kehidupan monastik dan berkeluarga, pria berusia 38 tahun itu bekerja lebih dari 10 jam sehari melalui siaran langsung atau livestreaming untuk menghidupi keluarganya.
Melansir VN Express, Selasa (15/9/2026), nama Liu kembali menjadi perhatian publik setelah Deng Yu dan Wang Hong menjadi warga negara China pertama yang memenangkan Fields Medal pada Juli 2026. Fields Medal merupakan salah satu penghargaan paling bergengsi di dunia matematika.
Pencapaian tersebut membuat masyarakat China kembali membicarakan Liu dan perjalanan hidupnya setelah meninggalkan dunia matematika. Lahir di Wuhan, China, Liu menunjukkan kemampuan matematika luar biasa sejak muda.
Pada 2006, ia memenangkan medali emas dengan nilai sempurna dalam International Mathematical Olympiad. Prestasi tersebut membawanya diterima langsung di program studi matematika Peking University, salah satu universitas paling bergengsi di China.
Setelah lulus, Liu mendapat tawaran pendidikan dengan pendanaan penuh dari MIT. Namun, alih-alih melanjutkan studi pascasarjana di AS, Liu mengambil keputusan yang mengejutkan banyak orang. Ia memilih meninggalkan dunia akademik dan menjadi biksu Buddha.
Setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan sebagai biksu, Liu secara resmi kembali ke kehidupan biasa pada 2022. Ia kemudian memasuki bidang psikologi.
Setahun kemudian, Liu mulai membangun bisnis sendiri dengan menggabungkan psikologi dan kebudayaan tradisional China melalui livestreaming serta kursus daring. Pada tahun yang sama, Liu menikah. Ia dan istrinya kemudian dikaruniai seorang putra pada 2024.
Menurut media China The Paper, Liu kini bekerja dari sebuah apartemen satu kamar berukuran kurang dari 30 meter persegi di Beijing yang disulap menjadi studio. Rutinitasnya dimulai sekitar pukul 07.00 hingga 08.00 pagi. Pada pukul 09.00, Liu mulai melakukan livestreaming.
Di luar waktu makan dan istirahat sekitar tiga jam pada siang hari, ia bekerja hingga sekitar pukul 21.00. Total waktu kerjanya bisa melampaui 10 jam sehari.
Pekerjaannya juga tidak hanya tampil di depan kamera. Liu harus merencanakan topik video, memeriksa naskah, merekam materi kursus, mengelola karyawan, hingga mengadakan lokakarya psikologi secara langsung.
Ia mengaku belum bisa mengurangi beban kerjanya secara signifikan karena bisnis yang dibangunnya masih berada dalam tahap awal.
"Seluruh industri internet memiliki budaya persaingan yang sangat keras. Jika Anda tidak bergerak maju, Anda akan tertinggal," kata Liu dalam wawancara dengan The Paper pada September.
"Ketika semua orang berusaha begitu keras untuk maju, terkadang Anda tidak punya pilihan selain ikut bersaing," lanjutnya.
Perjalanan bisnis Liu juga tidak langsung menghasilkan keuntungan besar. Saat baru merintis, kondisi keuangannya cukup ketat.
Ia dan istrinya sempat tinggal di apartemen yang kini dijadikan studio. Sementara itu, livestreaming pertamanya dilakukan dari kamar tidur mertuanya dengan menggunakan latar dan meja sederhana.
Setelah sekitar tiga tahun menjadi pengusaha, Liu mengatakan bisnisnya memang belum membuatnya kaya. Namun, setidaknya usaha tersebut kini tidak lagi merugi.
Liu dan istrinya, yang juga bekerja dalam bisnis tersebut, kini tinggal bersama putra mereka di apartemen sewaan dengan dua kamar tidur. Rumah lama mereka sepenuhnya digunakan sebagai studio.
Menikah dan menjadi ayah ternyata turut mengubah pandangan Liu mengenai uang. Ketika hanya bertanggung jawab atas dirinya sendiri, Liu mengaku pernah berpikir bisa bertahan hidup hanya dengan 1.000 yuan atau sekitar US$140 per bulan. Dengan kurs saat ini, jumlah tersebut setara sekitar Rp2 jutaan.
Bahkan, dalam kondisi terburuk, ia merasa tidak masalah jika harus tidur di bawah jembatan. Pandangan tersebut berubah setelah ia memiliki istri dan anak.
"Menghidupi keluarga membutuhkan uang. Anda harus membeli bahan makanan, memasak, dan makan dengan lebih baik," ujarnya.
Keputusan Liu menghasilkan uang dari pengetahuan yang dimilikinya juga menuai kritik di dunia maya. Sebagian warganet mempertanyakan mengapa seorang mantan jenius matematika dan biksu Buddha kini menjual kursus serta produk melalui livestreaming.
Namun, Liu menilai tidak ada pertentangan antara kehidupan masa lalunya dengan pekerjaannya sekarang. Menurutnya, menjual produk merupakan pekerjaan yang sah selama barang tersebut dipilih secara hati-hati dan benar-benar bermanfaat bagi konsumen.
"Jika kita dengan tulus ingin membantu orang lain, kita juga perlu mencari nafkah dan membuat pekerjaan kita berkelanjutan," kata Liu kepada Jimu News dalam wawancara pada Agustus.
Terlepas dari tekanan menjalankan bisnis dan tanggung jawab menghidupi keluarga, Liu mengaku puas dengan kehidupannya sekarang.
"Apa yang saya lakukan setiap hari bermakna, dan itu adalah sesuatu yang sangat saya minati," ujarnya.



