Jakarta, CNBC Indonesia - Harga pembangkit listrik tenaga surya kini jatuh ke tingkat yang disebut pengamat sebagai "sangat murah hingga tak masuk akal". Harga panel surya turun drastis dari sekitar Rp 9.000 per watt pada puluhan tahun lalu menjadi hanya sekitar Rp 1.900 per watt saat ini. Penurunan tajam ini mengakibatkan biaya produksi listrik tenaga surya kini tercatat paling murah dibandingkan semua sumber energi lain, dikutip dari laporan Futurism, Senin (21/9/2026).

Penurunan harga ini terjadi karena lonjakan produksi panel surya berskala besar, terutama di China yang kini menjadi pemasok terbesar dunia.

Pada tahun 2000, harga panel surya berkisar US$ 5-6 per watt atau sekitar Rp 9.000-Rp 10.800 per watt. Kini, harga turun menjadi hanya US$ 0,12 per watt atau sekitar Rp 1.900 per watt.

Dave Jones, pendiri lembaga penelitian energi Ember, menyebut harga ini "sangat murah hingga terasa tidak wajar". Penurunan harga ini membuka akses energi bersih ke seluruh dunia, baik negara kaya maupun berkembang.

Kemurahan energi surya bukan sekadar angka di atas kertas. Perubahan nyata sudah terjadi di berbagai benua:

Kondisi ini sangat menguntungkan Indonesia yang terletak di garis khatulistiwa dan mendapat sinar matahari sepanjang tahun:

Namun kesempatan ini harus segera diambil. Harga panel surya terus turun, tetapi kemampuan menyerapnya dengan cepat adalah kunci agar manfaatnya dirasakan sepenuhnya.