Data center AI milik Meta diduga menyebarkan bakteri mematikan ke saluran air warga di Wyoming, Amerika Serikat (AS). Tuduhan ini berlandaskan penelitian yang dilakukan oleh pemerintah di Cheyenne, Wyoming.

Pemerintah Wyoming melakukan tes pada air limbah yang dibuang ke saluran air secara rutin dari data center AI milik Meta di wilayahnya. Penelitian menemukan bakteri bernama Cupriavidus gilardii di dalam 801.000 galon air yang dibuang oleh kontraktor pusat data tersebut awal tahun ini.

Meski demikian, air limbah yang dibuang ke selokan tersebut tidak pernah ditujukan untuk pasokan air minum warga. Namun, fenomena ini tetap meresahkan pemerintah setempat yang khawatir warganya terpapar bakteri tersebut jika menghirup uap dari air yang digunakan untuk irigasi.

Sebagai upaya melindungi warganya, pemerintah Cheyenne membutuhkan waktu hingga bulan Juli sebelum akhirnya memutuskan untuk berhenti menerima air limbah dari kontraktor Meta, Goat Systems.

"Ini sangat mengejutkan. Sebagai langkah kehati-hatian, kami telah menghentikannya sampai kami bisa mendapatkan informasi lebih lanjut," kata Frank Strong, Manajer Sumber Daya Air di Dewan Utilitas Publik Kota Cheyenne, dikutip dari The Guardian, Selasa (8/9).

Merespons penelitian pemerintah Chyenne, Meta melakukan penelitian internal bersama kontraktornya. Berdasarkan temuannya, perusahaan tidak menemukan bakteri Cupriavidus gilardii seperti yang dituduhkan.

Perusahaan milik Mark Zuckerberg ini juga mempertanyakan validitas hasil pengujian yang dilakukan oleh pemerintah kota. Mereka menegaskan komitmen mereka untuk melindungi sumber air setempat.

"Meta berkomitmen untuk menjadi tetangga yang baik di Cheyenne, termasuk membantu melindungi sumber air setempat. Kami menghargai informasi secara rinci oleh dewan utilitas publik, yang memastikan bahwa temuan tersebut tidak berdampak pada masyarakat atau lingkungan," kata Meta.

Harriet Hageman selaku anggota Kongres dari Partai Republik yang juga pendukung Presiden AS Donald Trump di Wyoming, telah mengirim surat kepada CEO Meta Mark Zuckerberg untuk meminta jawaban terkait kontaminasi bakteri tersebut.

Menurutnya, air merupakan sumber daya yang sangat berharga di AS. Ia khawatir karena sistem data center AI ini seharusnya membantu menghemat penggunaan air.

"Air adalah sumber daya yang sangat berharga bagi kami. Karena itu, kami khawatir sistem yang seharusnya mengurangi penggunaan air di data center justru menyebabkan air tercemar," tulis Hageman dalam suratnya.

Di sisi lain, Trump tampak tidak terpengaruh oleh kritik publik yang tajam terhadap pusat data AI. Ia justru menyebut sejumlah fasilitas ini sebagai "angsa bertelur emas" yang menciptakan lapangan kerja dan kekayaan.

Pemerintahannya telah berupaya untuk mempersulit publik dalam mendapatkan informasi serta memberikan komentar mengenai aktivitas data center, termasuk dalam hal penggunaan air.

"Satu-satunya alasan masyarakat di berbagai wilayah AS tidak menginginkan pusat data adalah jika mereka ingin berakhir tertinggal dan miskin," tulis Trump dalam platform media sosial Truth Social beberapa waktu lalu.

Meta membangun kompleks data center AI seluas sekitar 388 hektare di Chyenne, Wyoming, AS. Proyek ini meraup nilai US$800 juta. Dalam proyek ini, Meta menggunakan air untuk membersihkan kotoran dari pipa dalam proses "fill and flush".

Pada proses 'fill and flush', air dibuang kembali untuk digunakan sesuai ketentuan dalam izin prapengolahan yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah atau pengelola fasilitas air limbah setempat.

Air ini dibuang untuk mencegah penumpukan mineral dan kerak di dalam pipa. Namun, air tersebut dapat mengandung logam berat atau PFAS yang dikenal sebagai "bahan kimia abadi" karena sulit terurai dan telah dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan jika tertelan.

PFAS ini dapat ditemukan dalam sistem pendingin (closed loop) dan kerap dipuji oleh industri data center karena menggunakan lebih sedikit air.

Ketika digunakan sebagai pendingin, air bisa keluar dalam keadaan jauh lebih panas daripada saat diambil. Hal ini dikhawatirkan oleh para kritikus sebuah fasilitas berbahan bakar gas yang kini beralih dari penambangan kripto ke AI dan menggunakan air dari Danau Seneca.

Para kritikus ini menyebut air yang dibuang ke danau bisa mencapai suhu 108 derajat Fahrenheit atau sekitar 42 derajat Celsius.

Lebih lanjut, berbagai penelitian menyebut data center membutuhkan air dalam jumlah besar untuk pembangunan dan pengoperasiannya, termasuk untuk mendinginkan komputer yang membutuhkan banyak energi di dalamnya. Sebagai contoh, sebuah data center berukuran menengah dapat menggunakan sekitar 300.000 galor air per hari.

Meski demikian, industri data center menunjukkan bahwa penggunaan air hanya sebagian kecil jika dibandingkan dengan sektor lainnya yang membutuhkan volume air lebih banyak seperti pertanian.