Jakarta, CNBC Indonesia - Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin dalam pada perdagangan Kamis (24/9/2026).

Merujuk data Refinitiv, pada pukul 09.15 WIB, rupiah mesti mengalami depresiasi hingga 0,59% atau melemah ke posisi Rp17.900/US$.

Tekanan tersebut membesar setelah rupiah dibuka melemah 0,22% di level Rp17.835/US$. Dalam waktu singkat, mata uang Garuda kembali kehilangan 65 poin dari posisi pembukaan.

Pelemahan hari ini sekaligus membalikkan penguatan pada perdagangan Rabu (23/9/2026), ketika rupiah terapresiasi 0,31% dan ditutup di posisi Rp17.795/US$.

Dibandingkan penutupan tersebut, rupiah telah melemah 105 poin hingga pukul 09.15 WIB.

//

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau menguat 0,04% ke posisi 101,132.

Pergerakan rupiah hari ini diperkirakan masih dipengaruhi oleh dinamika dolar AS di pasar global. Penguatan greenback menunjukkan tingginya permintaan terhadap aset berdenominasi dolar sehingga mempersempit ruang penguatan mata uang lain, termasuk rupiah.

Dolar AS menguat ke level tertingginya dalam hampir dua bulan seiring meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) dalam waktu dekat.

Sejumlah pejabat The Fed kembali membuka peluang pengetatan lanjutan apabila inflasi tidak mereda. Gubernur The Fed Michael Barr mengatakan bank sentral AS kemungkinan masih perlu menaikkan suku bunga untuk membawa inflasi turun.

Data ekonomi AS turut memperkuat ekspektasi tersebut. Indeks PMI Komposit AS versi S&P Global naik dari 56,0 pada Agustus menjadi 58,4 pada September, level tertinggi sejak Juli 2021. Kenaikan ditopang oleh lonjakan pesanan baru, tetapi kuatnya permintaan juga mendorong harga naik.