Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi memaparkan kondisi terkini sektor keuangan Tanah Air di tengah kondisi gejolak pasar.
Sebagaimana diketahui, saat ini mata uang rupiah tertekan yang salah satunya dipengaruhi oleh dana asing yang terus keluar dari pasar modal Indonesia.
Kiki, sapaan akrab Friderica, mengatakan di tengah goncangan sentiment global dan domestik, pertumbuhan kredit masih menguat di seluruh kelompok perbankan, baik bank pelat merah atau BUMN maupun swasta.
"Pertumbuhan kredit kita sudah 13,6% [YoY]. Agak turun sedikit bulan kemarin, tapi yang 13,6% di bulan lalu ini tertinggi setelah 10 tahun terakhir," ujarnya pada pembukaan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kadin, Kamis (29/10/2026).
Menurut Kiki, hal ini menjadi pertanda baik bahwa sektor perbankan Tanah Air tetap melakukan fungsi intermediasi dengan total penyaluran kredit mencapai lebih dari Rp9.200 triliun. Himpunan dana pihak ketiga (DPK) juga disebutnya masih mengalami pertumbuhan hingga mencapai Rp10.492 triliun.
Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) perbankan RI masih kuat di angka 24,3% dengan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) sebesar 2,07%, masih jauh di bawah threshold yang sebesar 5%.
Jika dilihat dari jenis kredit, Kiki menyatakan penyaluran pembiayaan ke segmen korporasi tumbuh 21,03% YoY. Kredit konsumsi, lanjutnya, masih terkontraksi, tetapi kredit segmen UMKM mengalami perbaikan.
"Kalau kita lihat di awal tahun ini pertumbuhan kredit UMKM itu masih negatif, masih terkontraksi. Jadi, sekarang sudah naik ke 2,68%," terangnya.
Kredit untuk sektor produktif juga mengalami pertumbuhan dengan kredit modal kerja sebesar 11,89% dan kredit investasi 23% secara tahunan. Sementara itu, rasio pinjaman terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) masih terjaga pada level 88,11%.
Jika dirinci, LDR bank-bank pelat merah sebesar 89%, kemudian bank umum swasta nasional sebesar 85,28%. "Jadi sebenarnya kalau kita melihat angka ini, kita patut bersyukur di tengah situasi dunia yang sangat challenging, situasi global yang sangat challenging ini sektor jasa keuangan masih terus bisa tumbuh menopang pertumbuhan industri di Indonesia," tutup Kiki.



