Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Rusia Vladimir Putin dilaporkan meminta masukan dari Elon Musk untuk mengembangkan layanan internet satelit yang berpotensi menjadi tandingan Starlink milik SpaceX.
Putin bahkan memberikan pujian terbuka kepada Elon Musk sebagai sosok jenius saat Rusia mulai membangun sistem internet satelit tersebut.
Orang nomor satu di Rusia itu juga mengonfirmasi bahwa Moskow terus menjalin komunikasi dengan Musk serta mitra asal Amerika Serikat (AS) dalam proses pengembangan proyek pesaing Starlink ini.
Pernyataan tersebut disampaikan Putin saat mendengarkan pemaparan dari Menteri Pengembangan Digital Rusia, Maksut Shadayev. Shadayev melaporkan bahwa Rusia telah meluncurkan lebih dari 30 satelit untuk membangun sistem internet satelit orbit bumi rendah (Low Earth Orbit/LEO) yang setara dengan Starlink.
"Tunggu sebentar, saya ingin menegaskan bahwa ini baru langkah pertama kami. Elon Musk adalah seorang jenius, dia benar-benar jenius," ujar Putin, sebagaimana dikutip dari Reuters, Kamis (29/10/2026).
Meski demikian, Putin mengakui Rusia masih tertinggal jauh dari Starlink yang dikembangkan oleh perusahaan antariksa milik Musk, SpaceX.
Shadayev menyebut Musk saat ini telah mengoperasikan lebih dari 5.000 satelit orbit rendah. Kendati demikian, data pemantauan independen dari Orbital Radar menunjukkan jumlah sebenarnya telah mendekati 10.000 satelit.
"Mereka punya lebih dari 5.000 satelit, sementara kami baru mengambil langkah pertama. Namun, kami bangga telah memulai proyek ini dan melakukannya secara mandiri," tutur Putin.
Ia menegaskan, tantangan utama Rusia berikutnya adalah memperluas skala produksi serta peluncuran satelit tersebut.
"Tugas kita sekarang adalah beralih dari fokus kualitas ke kuantitas," tegas Putin.
Selain itu, Putin menyampaikan bahwa Rusia menjaga hubungan komunikasi yang erat dengan para mitra AS, termasuk Musk, guna memastikan aktivitas konstelasi satelit di ruang angkasa tidak saling bertabrakan atau menimbulkan gangguan teknis.
"Kami menjalin kontak erat dengan mitra Amerika kami, termasuk Tuan Musk, karena sangat penting agar keberadaan satelit di orbit tidak saling mengganggu serta tetap menjaga tingkat disiplin dan ketertiban tertentu," tambahnya.
Pengembangan sistem internet satelit oleh Rusia ini berlangsung di tengah peran krusial Starlink dalam konflik perang Rusia-Ukraina. Militer Ukraina sangat bergantung pada jaringan tersebut, termasuk layanan Starshield, yakni varian Starlink khusus kebutuhan militer, guna mendukung komunikasi di medan tempur hingga navigasi operasi drone.
Namun, pihak Ukraina sempat mengeluhkan adanya pembatasan kecepatan (throttling) akses Starlink pada awal Oktober lalu. Kendala ini menghambat kemampuan militer Kyiv dalam mencegat serangan drone Rusia, bahkan memaksa mereka membatalkan sejumlah operasi militer strategis.
Isu teknis tersebut kian memperkeruh hubungan diplomasi antara Kyiv dan Washington, terlebih setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan pembelian minyak/energi dari Rusia. Trump juga mendesak Kyiv untuk menghentikan serangan terhadap fasilitas kilang minyak Rusia dan menyuarakan bahwa sudah saatnya Ukraina melakukan pergantian kepemimpinan nasional.
Pada akhir pekan lalu, pemerintah Ukraina mengonfirmasi bahwa layanan Starlink dan Starshield telah kembali berfungsi penuh. Meski begitu, Musk menuding militer Ukraina telah melanggar ketentuan penggunaan (terms of service) SpaceX. Pihak Musk maupun pemerintah AS-yang mengoperasikan jaringan Starshield dengan memanfaatkan teknologi Starlink-membantah bertanggung jawab atas pembatasan kecepatan yang sempat terjadi.
Keinginan Moskow untuk merangkul Musk sebenarnya bukan hal baru. Pada 2025 lalu, Utusan Khusus Investasi Presiden Putin, Kirill Dmitriev, secara terbuka menyatakan minat Rusia untuk berkolaborasi dengan Musk dalam misi penjelajahan ke planet Mars.



