Sejumlah ekonom dan analis keuangan memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di level 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) September 2026.

Dari lima analis yang dihubungi CNNIndonesia.com, empat memperkirakan BI Rate tetap, sementara satu analis menilai bank sentral idealnya kembali menaikkan suku bunga.

Lima analis tersebut yakni Ekonom Senior Bank Permata Josua Pardede, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto, Executive Director Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Muhammad Faisal, Analis Mata Uang DOO Financial Futures Lukman Leong, dan Analis Mata Uang Ariston Tjendra.

Josua memperkirakan BI akan menahan BI Rate di level 5,75 persen pada RDG September.

Menurut Josua, peluang BI mempertahankan suku bunga cukup besar karena kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed sebesar 25 basis poin pada 16 September menjadi 3,75 persen-4 persen telah diantisipasi sebelumnya.

"Bank Indonesia akan kembali mempertahankan BI-Rate di 5,75 persen pada RDG September. Peluang BI menahan suku bunga relatif tinggi pada September," kata Josua kepada CNNIndonesia.com, Selasa (22/9).

Ia menilai BI telah lebih dahulu menaikkan BI Rate secara kumulatif 100 basis poin pada Mei-Juni sebagai langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi.

"Jika BI langsung menaikkan bunga lagi pada September hanya karena Bank Sentral AS menaikkan 25 basis poin, ada risiko BI melakukan pengetatan berlebihan. Padahal, sebagian tekanan eksternal tersebut sudah diantisipasi oleh kenaikan sebelumnya," ujarnya.

Josua juga melihat kondisi domestik masih memberikan ruang bagi BI untuk menahan suku bunga. Inflasi Agustus 2026 sebesar 3,19 persen masih berada dalam sasaran BI 2,5 persen plus-minus 1 persen, sementara cadangan devisa mencapai US$146,5 miliar atau setara sekitar 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Menurut dia, rupiah juga sempat menguat pada Agustus, neraca perdagangan kembali mencatat surplus, dan cadangan devisa meningkat. Namun, Josua tetap melihat arah risiko suku bunga masih cenderung ke atas.

Ia memperkirakan apabila The Fed kembali menaikkan suku bunga 25 basis poin sebelum akhir 2026, BI berpotensi merespons dengan kenaikan 25 basis poin sehingga BI Rate menjadi 6 persen pada akhir tahun.

"Jadi, skenario saya bukan BI selesai menaikkan bunga, melainkan menahan pada September sambil mempertahankan kesiapan untuk kembali menaikkan pada triwulan IV," jelasnya.

Pandangan serupa disampaikan Rully yang memperkirakan BI Rate tetap 5,75 persen pada RDG September, meskipun masih membuka peluang kenaikan 25 basis poin pada tahun ini.

"Kalau besok saya perkirakan akan stay di 5,75 persen, sementara ini line of defense pertama adalah intervensi," kata Rully.

Menurut Rully, tekanan terhadap rupiah terutama berkaitan dengan dampak kebijakan The Fed yang lebih hawkish. Namun, keputusan BI mempertahankan suku bunga tidak otomatis akan memberikan tekanan negatif terhadap rupiah.

"Hold di 5,75 persen tidak otomatis berarti negatif bagi rupiah. Dampaknya sangat bergantung pada komunikasi BI dan seberapa kredibel pasar melihat policy mix yang menyertainya," ujarnya.

Rully memperkirakan BI masih memiliki peluang menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 6 persen pada tahun ini apabila tekanan eksternal semakin kuat.

Sementara itu, Muhammad Faisal melihat adanya sejumlah faktor yang dapat mendorong BI menaikkan suku bunga. Di antaranya pelemahan rupiah, kenaikan suku bunga The Fed, konflik geopolitik, serta kenaikan harga minyak dunia.

"Kalau kita melihat ini semuanya sepertinya memang mendorong untuk ada kenaikan tingkat suku bunga. Baik itu karena konfliknya mengalami eskalasi, kemudian dari The Fed juga sudah menaikkan tingkat suku bunga 25 basis poin, lalu harga minyak juga sudah naik," ujar Faisal.

Namun, Faisal menilai BI masih memiliki ruang untuk mempertahankan BI Rate. Salah satu alasannya adalah selisih suku bunga antara BI dan The Fed yang dinilai masih cukup lebar.

"Kalau melihat faktor yang lain, ini sebetulnya masih ada ruang untuk tetap mempertahankan, untuk tidak lantas menaikkan," ujarnya.

Faisal juga menilai tekanan terhadap inflasi domestik masih relatif tertahan karena kenaikan harga energi sebagian diredam melalui kebijakan subsidi pemerintah.

Di sisi lain, pelemahan rupiah dinilai belum terlalu agresif sehingga BI masih dapat menggunakan instrumen lain untuk menjaga stabilitas nilai tukar tanpa harus menaikkan suku bunga.

"Masih bisa ada opsi untuk menggunakan instrumen yang lain untuk meredamnya, instrumen moneter yang lain termasuk di antaranya instrumen likuiditas makroprudensial, sehingga sebetulnya tidak harus menaikkan tingkat suku bunga," jelas Faisal.

Menurutnya, keputusan mempertahankan BI Rate juga diperlukan untuk menghindari tekanan lebih besar terhadap sektor riil. Kenaikan suku bunga sebelumnya telah ikut mendorong kenaikan suku bunga perbankan, terutama bunga kredit.

Bersambung ke halaman selanjutnya...

Analis Pasar Keuangan Ariston Tjendra juga menilai BI tidak perlu terburu-buru menaikkan suku bunga. Ia melihat pergerakan rupiah yang relatif stabil setelah The Fed menaikkan suku bunga menjadi salah satu pertimbangan.

"Kalau kita lihat pergerakan rupiah yang tidak terlalu melemah ketika pengumuman kenaikan suku bunga acuan AS, masih di kisaran Rp17.750-an, jadi ada kemungkinan BI tidak terburu-buru menaikkan suku bunga acuannya," kata Ariston.

Menurut dia, peluang BI menahan suku bunga juga didukung oleh membaiknya aliran dana asing serta posisi cadangan devisa.

"Ini bisa didukung oleh membaiknya aliran dana asing dan kekuatan cadangan devisa kita. Data aliran dana asing Q3 juga masih cukup besar Rp141 triliun, cadangan devisa di Agustus 2026 juga masih naik jadi US$146 miliar," ujarnya.

Meski demikian, Ariston menilai arah kebijakan BI tetap akan bergantung pada perkembangan kebijakan The Fed dan pasar keuangan global.

"Kebijakan BI ke depan tentunya dinamis mengikuti perkembangan kebijakan The Fed dan pasar keuangan. Jadi kalau terjadi perubahan yang signifikan, BI pasti akan memperbarui kebijakannya," pungkasnya.

Berbeda dengan empat analis sebelumnya, Lukman Leong menilai BI idealnya kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin.

Menurut Lukman, inflasi domestik memang masih berada dalam target BI.

Namun, kenaikan inflasi tetap memberikan tekanan terhadap rupiah. Selain itu, harga minyak mentah dunia yang masih tinggi berpotensi menambah beban fiskal.

"Idealnya BI kembali menaikkan suku bunga," kata Lukman.

Ia memperkirakan kenaikan sebesar 25 basis poin dapat menjadi respons terhadap tekanan eksternal, terutama imbal hasil obligasi global dan harga minyak mentah dunia yang masih tinggi.

Lukman juga memperkirakan apabila bank sentral memilih mempertahankan BI Rate, rupiah berpotensi kembali melemah.

"Apabila dipertahankan, rupiah diperkirakan akan melemah," ujarnya.

Sejumlah ekonom dan analis keuangan memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di level 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) September 2026.

Dari lima analis yang dihubungi CNNIndonesia.com, empat memperkirakan BI Rate tetap, sementara satu analis menilai bank sentral idealnya kembali menaikkan suku bunga.

Lima analis tersebut yakni Ekonom Senior Bank Permata Josua Pardede, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto, Executive Director Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Muhammad Faisal, Analis Mata Uang DOO Financial Futures Lukman Leong, dan Analis Mata Uang Ariston Tjendra.

Josua memperkirakan BI akan menahan BI Rate di level 5,75 persen pada RDG September.

Menurut Josua, peluang BI mempertahankan suku bunga cukup besar karena kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed sebesar 25 basis poin pada 16 September menjadi 3,75 persen-4 persen telah diantisipasi sebelumnya.

"Bank Indonesia akan kembali mempertahankan BI-Rate di 5,75 persen pada RDG September. Peluang BI menahan suku bunga relatif tinggi pada September," kata Josua kepada CNNIndonesia.com, Selasa (22/9).

Ia menilai BI telah lebih dahulu menaikkan BI Rate secara kumulatif 100 basis poin pada Mei-Juni sebagai langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi.

"Jika BI langsung menaikkan bunga lagi pada September hanya karena Bank Sentral AS menaikkan 25 basis poin, ada risiko BI melakukan pengetatan berlebihan. Padahal, sebagian tekanan eksternal tersebut sudah diantisipasi oleh kenaikan sebelumnya," ujarnya.

Josua juga melihat kondisi domestik masih memberikan ruang bagi BI untuk menahan suku bunga. Inflasi Agustus 2026 sebesar 3,19 persen masih berada dalam sasaran BI 2,5 persen plus-minus 1 persen, sementara cadangan devisa mencapai US$146,5 miliar atau setara sekitar 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Menurut dia, rupiah juga sempat menguat pada Agustus, neraca perdagangan kembali mencatat surplus, dan cadangan devisa meningkat. Namun, Josua tetap melihat arah risiko suku bunga masih cenderung ke atas.

Ia memperkirakan apabila The Fed kembali menaikkan suku bunga 25 basis poin sebelum akhir 2026, BI berpotensi merespons dengan kenaikan 25 basis poin sehingga BI Rate menjadi 6 persen pada akhir tahun.

"Jadi, skenario saya bukan BI selesai menaikkan bunga, melainkan menahan pada September sambil mempertahankan kesiapan untuk kembali menaikkan pada triwulan IV," jelasnya.

Pandangan serupa disampaikan Rully yang memperkirakan BI Rate tetap 5,75 persen pada RDG September, meskipun masih membuka peluang kenaikan 25 basis poin pada tahun ini.

"Kalau besok saya perkirakan akan stay di 5,75 persen, sementara ini line of defense pertama adalah intervensi," kata Rully.

Menurut Rully, tekanan terhadap rupiah terutama berkaitan dengan dampak kebijakan The Fed yang lebih hawkish. Namun, keputusan BI mempertahankan suku bunga tidak otomatis akan memberikan tekanan negatif terhadap rupiah.

"Hold di 5,75 persen tidak otomatis berarti negatif bagi rupiah. Dampaknya sangat bergantung pada komunikasi BI dan seberapa kredibel pasar melihat policy mix yang menyertainya," ujarnya.

Rully memperkirakan BI masih memiliki peluang menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 6 persen pada tahun ini apabila tekanan eksternal semakin kuat.

Sementara itu, Muhammad Faisal melihat adanya sejumlah faktor yang dapat mendorong BI menaikkan suku bunga. Di antaranya pelemahan rupiah, kenaikan suku bunga The Fed, konflik geopolitik, serta kenaikan harga minyak dunia.

"Kalau kita melihat ini semuanya sepertinya memang mendorong untuk ada kenaikan tingkat suku bunga. Baik itu karena konfliknya mengalami eskalasi, kemudian dari The Fed juga sudah menaikkan tingkat suku bunga 25 basis poin, lalu harga minyak juga sudah naik," ujar Faisal.

Namun, Faisal menilai BI masih memiliki ruang untuk mempertahankan BI Rate. Salah satu alasannya adalah selisih suku bunga antara BI dan The Fed yang dinilai masih cukup lebar.

"Kalau melihat faktor yang lain, ini sebetulnya masih ada ruang untuk tetap mempertahankan, untuk tidak lantas menaikkan," ujarnya.

Faisal juga menilai tekanan terhadap inflasi domestik masih relatif tertahan karena kenaikan harga energi sebagian diredam melalui kebijakan subsidi pemerintah.

Di sisi lain, pelemahan rupiah dinilai belum terlalu agresif sehingga BI masih dapat menggunakan instrumen lain untuk menjaga stabilitas nilai tukar tanpa harus menaikkan suku bunga.

"Masih bisa ada opsi untuk menggunakan instrumen yang lain untuk meredamnya, instrumen moneter yang lain termasuk di antaranya instrumen likuiditas makroprudensial, sehingga sebetulnya tidak harus menaikkan tingkat suku bunga," jelas Faisal.

Menurutnya, keputusan mempertahankan BI Rate juga diperlukan untuk menghindari tekanan lebih besar terhadap sektor riil. Kenaikan suku bunga sebelumnya telah ikut mendorong kenaikan suku bunga perbankan, terutama bunga kredit.

Bersambung ke halaman selanjutnya...

Sejumlah ekonom dan analis keuangan memperkirakan Bank Indonesia akan menahan suku bunga acuan BI Rate pada Rapat Dewan Gubernur September 2026. Ilustrasi. (REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana).

Analis Pasar Keuangan Ariston Tjendra juga menilai BI tidak perlu terburu-buru menaikkan suku bunga. Ia melihat pergerakan rupiah yang relatif stabil setelah The Fed menaikkan suku bunga menjadi salah satu pertimbangan.

"Kalau kita lihat pergerakan rupiah yang tidak terlalu melemah ketika pengumuman kenaikan suku bunga acuan AS, masih di kisaran Rp17.750-an, jadi ada kemungkinan BI tidak terburu-buru menaikkan suku bunga acuannya," kata Ariston.

Menurut dia, peluang BI menahan suku bunga juga didukung oleh membaiknya aliran dana asing serta posisi cadangan devisa.

"Ini bisa didukung oleh membaiknya aliran dana asing dan kekuatan cadangan devisa kita. Data aliran dana asing Q3 juga masih cukup besar Rp141 triliun, cadangan devisa di Agustus 2026 juga masih naik jadi US$146 miliar," ujarnya.

Meski demikian, Ariston menilai arah kebijakan BI tetap akan bergantung pada perkembangan kebijakan The Fed dan pasar keuangan global.

"Kebijakan BI ke depan tentunya dinamis mengikuti perkembangan kebijakan The Fed dan pasar keuangan. Jadi kalau terjadi perubahan yang signifikan, BI pasti akan memperbarui kebijakannya," pungkasnya.

Berbeda dengan empat analis sebelumnya, Lukman Leong menilai BI idealnya kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin.

Menurut Lukman, inflasi domestik memang masih berada dalam target BI.

Namun, kenaikan inflasi tetap memberikan tekanan terhadap rupiah. Selain itu, harga minyak mentah dunia yang masih tinggi berpotensi menambah beban fiskal.

"Idealnya BI kembali menaikkan suku bunga," kata Lukman.

Ia memperkirakan kenaikan sebesar 25 basis poin dapat menjadi respons terhadap tekanan eksternal, terutama imbal hasil obligasi global dan harga minyak mentah dunia yang masih tinggi.

Lukman juga memperkirakan apabila bank sentral memilih mempertahankan BI Rate, rupiah berpotensi kembali melemah.

"Apabila dipertahankan, rupiah diperkirakan akan melemah," ujarnya.